Berikut ini ada kisah menarik dari tulisan George W Burns (psikoterapist) yang mudah-mudahan bisa jadi perenungan dan pencerahan bagi kita semua.

 

          Suatu ketika, ada sebuah pulau yang dihuni oleh semua sifat manusia. Ini ber;angsung lama sebelum mereka menghuni tubuh manusia, dan lama sekali sebelum kita mengkotak-kotakkannya ke dalam istilah baik atau buruk. Pokoknya mereka ada, dengan ciri-cirinya sendiri. Bahkan sifat-sifat tersebut berdiri sendiri sebagaimana manusia. Mungkin itu sebabnya pada akhirnya mereka bersatu. Di pulau tersebut hiduplah Optimisme, Pesimisme, Pengetahuan, Kemakmuran, Kesombongan, dan Kasih Sayang. Sudah barang tentu sifat-sifat yang lain hidup disana juga.

 

          Pada suatu hari dimaklumatkan bahwa pulau tersebut pelan-pelan akan tenggelam. Ketika sifat-sifat tersebut mendengar berita ini, mereka dilanda kepanikan. Mereka berlarian kesana kemari seperti semut yang rumahnya diinjak samapai hancur. Setelah beberapa saat, mereka mulai tenang dan merencanakan tindakan positif. Karena hidup di pulau, kebanyakan dari mereka mempunyai perahu dan mengatur pemberangkatan dari pulau. Kasih Sayang belum siap. Dia tidak memiliki perahu sendiri. Mungkin dia telah meminjamkannya kepada seseorang bertahun-tahun yang lalu. Dia menunda keberangkatannya hingga saat-saat terakhir agar dia bisa membantu orang lain bersiap-siap. Pada akhirnya Kasih Sayang memutuskan bahwa dia harus meminta bantuan.

 

          Kemakmuran baru saja berangkat dari dermaga di depan rumahnya yang besar. Perahunya besar sekali, lengkap dengan semua teknologi paling mutakhir dan perangkat navigasi. Jika bepergian dengannya sudah pasti perjalanan mereka akan menyenangkan.

“Kemakmuran”, panggil Kasih Sayang, “Bolehlah aku ikut bersamamu ???” “Tidak bisa,” jawab Kemakmuran. “Perahuku sudah penuh. Berhari-hari ku habiskan untuk memenuhinya dengan emas dan perak milikku. Bahkan hanya tersisa sedikit ruang untukmu disini.”

 

          Kasih Sayang memutuskan untuk minta tolong kepada Kesombongan yang sedang lewat di depannya menaiki perahu yang unik dan indah. “Kesombongan, sudikah engkau menolongku ????” “Maaf, “kata Kesombongan. “Aku tidak bisa menolongmu. Tidakkah kau lihat sendiri ???? Kamu basah kuyup dan kotor. Coba bayangkan, betapa kotornya dek perahuku yang mengkilat ini nanti jika kamu naik.”

 

          Lalu Kasih Sayang melihat Pesimisme yang sedang berusaha sekuat tenaga mendorong peraku ke air. Kasih Sayang meletakkan tangannya ke buritan kapal dan membantu Pesimisme mendorong perahunya. Pesimisme mengeluh terus menerus. Perahunya terlalu berat, pasirnya terlalu lembut, dan airnya terlalu dingin. Sungguh hari yang tidak tepat untuk melaut. “Peringatan yang diberikan mendadak sekali, dan pulau ini tidak seharusnya tenggelam,” keluhnya. Mengapa semua kesialan ini terjadi padanya ????? Mungkin dia bukan teman seperjalanan yang menyenangkan. Situasi Kasih Sayang sudah sangat kepepet. “Pesimisme, bolehkah aku menumpang perahumu ?????” “Oh, Kasih Sayang, engkau terlalu baik untuk berlayar denganku. Sikapmu yang penuh perhatian bahakan menjadikanku merasa lebih bersalah dan tidak karuan. Bayangkan, seandainya ada ombak besar yang menghantam perahu kita dan engkau tenggelam. Bagaimana menurutmu persaanku jika itu terjadi ???? Tidak, aku tidak bisa mengajakmu.” Salah satu perahu yang dilihat terkhir kali meninggalkan pulau adalah Optimisme. Dia tidak percaya dengan segala omong kosong tentang bencana dan hal-hal buruk, yaitu bahwa pulau ini akan tenggelam. Seseorang akan mampu berbuat sesuatu dan sebelum pulau ini benar-benar tenggelam. Kasih Sayang berteriak memanggilnya, tetapi Optimisme terlalu sibuk menatap ke depan dan memikirkan tujuan berikutnya sehingga dia tidak mendengar. Kasih Sayang berteriak memanggilnya sekali lagi, tetapi bagi Optimisme tidak ada istilah menoleh ke belakang (pingin niru aqqqqqqqqqq). Dia sudah meninggalkan masa lalu di belakang, dan berlayar menuju ke depan. Pada saat Kasih Sayang sudah nyaris putus asa, dia mendengar sebuah suara, “Ayo, naiklah ke perahuku.” Kasih Sayang merasa begitu lelah dan letih sehingga  dia meringkuk di atas perahu dan langsung tertidur. Dia tertidur sepanjang perjalanan sampai nahkoda kapal mengumumkan bahwa mereka telah sampai di tanah kering dan dia bisa turun. Dia begitu berterimakasih dan gembira karena perjalanannya berjalan aman sehingga bia berterimakasih kepada sang nahkoda hangat, kemudian meloncat ke pantai. Dia melambaikan tangannya ketika pelaut itu meneruskan perjalanannya. Baru pada saat itulah dia sadar kalau lupa menanyakan nama nahkoda itu. Ketika di pantai dia bertemu dengan Pengetahuan dan bertanya, “Siapa tadi yang menolongku ???” “Itu tadi Waktu” jawab Pengetahuan. “Waktu ??” tanya Kasih Sayang. “Mengapa hanya Waktu yang mau menolongku ketika semua orang tidak mau mengulurkan tangan ???” Pengetahuan tersenyum dan menjawab, “Sebab hanya Waktu yang mampu mengerti betapa hebatnya Kasih Sayang.”

 

 

Komentar
  1. strawberrymisire mengatakan:

    kamu biasanya jadi optimisme, hmm terkesan sombong kan?? makanya km jangan gitu, kayak ga butuh aja🙂
    ato uda ga ada artinya orang tsb

  2. dwiluky mengatakan:

    terimakasih sudah memberi Respon di tulisan ini😉

  3. Ana Marina mengatakan:

    yaa yaa yaa singkat bgt sich jawabnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s