Berilah saya seribu orang tua, saya bersama mereka kiranya dapat memindah gunung, tetapi apabila saya diberi sepuluh pemuda yang bersemangat dan berapi-api, kecintaannya pada bangsa dan tanah air tumpah darahnya, saya akan menggemparkan dunia” (Bung Karno, Presiden RI I)

 

          Yaa, pemuda namanya. Sosok muda, progresif dan berapi-api yang dilandasi oleh landasan kebangsaan serta spirit cinta tanah air itulah yang akhirnya melatarbelakangi Bung Karno menyuarakan bahwa mereka mampu menggetarkan dunia. Padahal hanya sepuluh saja. Tentu saja bukan hanya sebuah apologi atau pun irrational logic pendapat yang demikian. Kiranya Bung Karno sendiri telah menyadari bahwa dalam pembentukan negara-bangsa dan ketahanan Nasional yang sebenarnya, dibutuhkan pemuda sebagai aktor utama dan garda terdepan. Fakta Sejarah menceritakan kepada kita bahwa pemuda yang cinta kepada bangsa dan tanah airnya mempunyai keterikatan bathin dengan kebangkitan sebuah peradapan.

 

          Al-Qur’an telah mengabdikan kisah pemuda Ibrahim yang berani memberontak dan bertindak revolusioner untuk memperbaiki tatanan sistem masyarakat yang sudah rusak. Kisah Ash-Habul Khafi (para pemuda penghuni gua) adalah bukti nyata bahwa pemuda selalu punya peran dalam merubah kondisi suatu bangsa yang tertindas oleh kesewenang-wenangan penguasa. Selain itu, para Nabi dan Rosul adalah contoh teladan para pemuda dalam merubah suatu bangsa. Nabi Muhammad SAW berhasil merubah kondisi bukan hanya satu bangsa tapi hampir separuh dunia. Tercatat berbagai nama pemuda terbaik di zamannya menghiasi perjalanan beliau. Tidak kurang dari sahabat seperti Ali bin Abu Thalib, Zubair bin Awwam, Ja’far bin Abu Thalib yang sejak berusia delapan tahun telah ikut berjuang bersama Rasul hingga saat usia mudanya tiba, mereka sudah demikian matang matang mengelola sebuah peradaban yang besar. Sama halnya dengan sahabat seperti Arqam bin Abi Arqam, Shuhaib Ar Rumy, Zaid bin Haritsah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Usman bin Affan, Usman bin Said, yang sedari belasan tahun berjuang bersama Rasulullah.

 

          Sejarah pun kembali bercerita bahwa semangat intelektualitas para pemuda semasa Peradaban Yunani diwarnai kecermelangan pemikiran para pemudanya. Sebut saja Socrates, Plato, Aristoteles, dan sebagainya. Ketika revolusi-revolusi besar terjadi di berbagai belahan dunia, dukungan para pemuda yang menggairahkannya. Revolusi Perancis digagas oleh semangat perjuanagn pemuda, demikian pula denga revolusi pasca Perang Dunia II di Mesir yang memicu hengkangnya Inggris dari negara tersebut, di Amerika (1950), Spanyol (1968), Hungaria (1956), Amerika Latin (1928), Aljazair (1954), Sudan (1964), Jepang (1960), Korea Selatan (1960), Turki (1960), China (1989), hingga Indonesia. Peran nyata para pemuda dalam Sejarah perjuangan Indonesia modern dapat kita lihat berdasarkan periode Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan 1945, Bangkitnya Orde Baru 1966 dan dimulainya Orde Reformasi 1998.

 

Kebangkitan Nasional 1908

          Berdasarkan Sejarah, tonggak awal Kebangkitan Nasional disebutkan dengan diawali berdirinya Organisasi Budi Oetomo tahun 1908. Organisasi yang dimotori oleh para mahasiwa Stovia, sekolah kedokteran yang didirikan Belanda untuk anak priyayi Indonesia. Namun hal ini masih menjadi perdebatan karena Budi Oetomo tidak bersifat Nasional. Organisasi ini hanya ada di Jawa dan memang khusus diperuntukkan bagi orang Jawa. Kontroversi Sejarah tersebuttidak bisa menafikan bahwa sejak saat itu perjuangan para pemuda telah memasuki babak baru. Perjuangan melalui sarana organisasi telah dimulai. Walaupun dimulai oleh organisasi yang bersifat kedaerahan, kesadaran untuk menyatu dalam suatu bangsa sudah ada.

 

Sumpah Pemuda 1928

          Setelah Perang Dunia I, filsafat Nasionalisme abad pertengahan, mulai merambat ke negara-negara jajahan melalui para mahasiswa negara jajahan yang belajar ke negara penjajah. Soepomo, Mohammad Hatta, dan Sutan Syahrir sudah aktif berdiskusi tentang masa depan negaranya ketika mereka masih belajar di Benua Eropa. Di dalam negeri sendiri, Soekarno sejak remaja, masa mahasiswanya bahkan setelah lulus kuliahnya, terus aktif menyuarakan tuntutan kemerdekaan bagi negerinya lewat berbagai organisasi yang tumbuh di abad 20. Pada masa ini juga banyak diciptakan lagu-lagu kebangsaan yang sarat dengan muatan semangat Nasionalisme seperti Indonesia Raya, Dari Sabang Sampai Merauke, Padamu Negeri, Maju Tak Gentar dan lain sebagainya. Dua puluh tahun setelah Kebangkitan Nasional, kesadaran untuk bersatu ke dalam satu negara, bangsa dan bahasa Indonesia, telah disadari oleh para pemuda yang sudah mulai terkotak-kotak dengan organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatera dan lain-lain, kemudian diwujudkan secara nyata dengan menggelorakan Sumpah Pemuda di tahun 1928.

 

Proklamasi Kemerdekaan 1945

          Peristiwa ini diawali dengan kenekatan para pemuda yang menculik Soekarno-Hatta ke daerah Rengasdengklok. Tindakan ini diambil oleh para pemuda dengan maksud untuk mengamankan Soekarno-Hatta dari pengaru Jepang, agar mereka mau secepatnya untuk mendeklarasikan kemerdekan Republik Indonesia. Hal ini bertujuan agar kekalahan Jepang tidak dimanfaatkan oleh Belanda untuk masuk kembali dan menjajah Indonesia lagi. Penculikan ini membawa hasil dibacakannya Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Momen bersejarah ini menjadi tonggak penting dalam kehidupan dan kelangsungan bangsa Indonesia selanjutnya.

 

Lahirnya Orde Baru 1966

          Tepat 20 tahun setelah kemerdekaan, terjadi huru-hara Pemberontakan G30S/PKI dan eksesnya. Tanpa peran besar mahasiswa dan organisasi pemuda serta organisasi sosial kemasyarakatan di tahun 1966, Soeharto dan para tentara tidak mungkin bisa ‘merebut’ kekuasaan dari Orde Lama Soekarno. Tetapi syang, penguasa Orde Baru mendepak para pemuda dan mahsiswa yang telah menjadi motor utama pendorong mobil RI yang mogok, sekaligus penggantian sopir dari Soekarno ke Soeharto. Bahkan sejak akhir tahun 1970-an para mahasiswa dibatasi ruang geraknya dalam berpolitik dan didukung ke dalam ruang-ruang kuliah di kampus lewat NKK/BKK.

 

Lahirnya Orde Reformasi 1998

          Pemerintahan Orde Baru yang walaupun secara kasat mata telah menampakkan adanya kemajuan dalam kehidupan masyarakat, sesungguhnya dibangun dengan fondasi ekonomi yang rapuh, tergerogoti oleh jejaring KKN. Krisis moneter mengawali kejatuhan pemerintah Orde Baru. Selain itu, gelombang aksi mahasiswa yang terus menggelora menjadi bagai deburan ombak yang tak pernah berhenti. Akhirnya Orde Baru pun menyerah dan perpindahan kekuasaan itu terjadi. Demikianlah, para pemuda menjadi tulang punggung sebuah peradaban. Apalah jadinya sebuah bangsa tanpa pemuda,  tanpa pemuda berkontribusi, tanpa pemuda yang sadar, tanpa pemuda yang dengan semangat cinta kepada tanah air dan bangsanya mengalahkan kecintaan terhadap dirinya sendiri ????? TIDAK AKAN ADA SEJARAH BANGSA INDONESIA, tidak akan ada Revolusi Perancis, tidak ada perjuangan menegakkan kebenaran. Tanpa mengurangi rasa hormata akan peran orang tua (justru orang tualah yang kemudian membimbing generasi muda menemukan bintangya), keseluruhan nilai yang ada dalam diri pemuda menyiratkan secerah harapan bagi bangsa untuk bangkit, untuk membela tanah air dan bangsa, untuk mewujudkan ketahanan Nasional Indonesia, dan untuk membangkitkan bangsa Indonesia dari jurang keterpurukan.

 

####Sejarah…….akan selalu hadir dimana ada kehidupan. Sejarah…….selalu mencatat peristiwa tanpa mengenal sang waktu. Dari sejarah-lah kita dapat melihat lukisan masa silam. Jadi bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai sejarahnya dan melestarikannya kepada generasi penerusnya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s