“Jika jatuh seekor lalat pada minuman kalian maka benamkanlah, lalu keluarkan, sungguh disalah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sebelah sayap lainnya kesembuhan” (Shahih Bukhari).

 

Menurut hadist tersebut, jika seekor lalat masuk ke dalam minuman kita, tidak perlu khawatir mengenai hal tersebut kerna demikian sabda Rosulullah, bahwa kalau sayap yang sebelah membawa penyakit, maka sayap yang sebelah lagi membawa penangkal penyakit tersebut. Jadi minum saja air di dalamnya.

 

Menurut logika kita bahkan anak SD pun tahu bahwa lalat adalah binatang kotor yang makanannya adalah sampah, bangkai, kotoran manusia dan hewgan, dan sebagainya. Lalat juga dikenal menyebarkan berbagai penyakit mulai kholera, TBC, dan sebagainya. Hal ini karena lalat adalah media berbagai kuman penyakit (carier patogen) mulai bakteri patogen bahkan virus penyebab berbagai penyakit yang menempel di badannya. Namun jika kita membaca artikel di Koran Republika 01 Mei 2004, “Lalat Antara Penyakit dan Obat”, Insya Allah pendapat kita akan berubah. Ternyata dari studi yang dilakukan oleh Universitas Colorado di Amerika menunjukkan bahwa lalat tidak hanya berperan sebagai (penyebab penyakit) saja, tetapi jug memebawa mikrobiota yang dapat bermanfaat.

 

Mikrobiota di dalam tubuh lalat ini berupa sel berbentuk longitudinal yang hidup sebagai parasit di daerah abdomen (perut) mereka. Untuk melengkapi siklus hidup mereka, sel ini berpindah ke tubulus-tubulus respiratori dari lalat. Jika lalat dicelupkan ke dala,m cairan , maka sel-sel tadi akan keluar dari tubulus ke cairan tersebut. Mikrobiota adalah suatu bakteriofaq yang tak lain adalah virus yang menyerang virus lain serta bakteri. Virus ini dapat dibiakkan untuk menyerang organisme lain. Bakteriofaq sendiri saat ini sedang dikembangkan sebagai terapi (pengobatan) bakteri terbaru.

 

Penelitian ini dilakukan seiring dengan meningkatnya spesies bakteri yang semakin resisten (kebal) dengan obat-obatan antibioatik yang tersedia. Mikrobiota yang terkandung di lalat ternyata juga mengeluarkan metabolit aromatik yang menekan siklus hidup plasmodium sebagai patogen yang terkandung di beberapa jenis lalat. Penelitian paling mutakhir dilakukan oleh perusahaan farmasi Glaxo Smith-Kline yang tengah mensponsori penelitian dr. Jonna Clarke sidari Universitas Maquarie. Pada awalnya penelitian menunjukkan bahwa pada satu sayap lalat ada bakterinya, sedangkan sayap yang lain ada proteinnya. Kemudian Clarke dalam penelitian selanjutnya berusaha membuktikan bahwa lalat mempunyai kemampuan untuk menghasilkan antibiotik. Sejauh ini penelitian itu telah menemukan bahwa empat spesies yang ditelit (termasuk lalat rumah) memproduksi berbagai bentuk antibiotik pada staadium dari siklus hidupnya. “Penelitian tersebut dipublikasikan tahun 2002, namun sampai sekarang belum diketahi kelanjutannya, “kata spesialis penyakit dalam dr. Rawan Broto, SpPD.

 

Betapa dahsyat dan hebatnya tutunan sunnah dari Rosulullah SAW. Hal ini dibuktikan sendiri oleh para ilmuwan kita. Para ahli mengamati dan menelitinya dengan mikroskop selama puluhan tahun, namun Rasullulah telah mengetahui bahwa di sayap lalat itu selain ada gen penyakit terdapat juga gen penyembuh. Ternyata terbukti oleh para ilmuwan kita, kedalaman dan ketajaman dari pemahaman Muhammad Rasulullah SAW. Demikian indahnya, demikian sempurnanya dan demikian jenisunya Rasulullah muhammad SAW.

 

Selain itu, lalat ternyata punya rahasia kehebatan lain. Pernahkah anda merasa jengkel karena kesulitan memukul lalat??? Selama 20 tahun meneliti biomekanika sayap lalat, Michael Dickinson dari Institut Teknologi California (Caltech) baru memecahkan sekarang. Itu pun karena dia selalu penasaran terhadap pertanyaan yang sederhana dan sering dilontarkan banyak orang yang ditemuinya. “Sekarang saya punya jawabannya,” ujar Dickinson yang melakukan penelititan bersama Esther M dan Abe M Zarem. Ia menemukan rahasia tersebut setelah merakam dengan kecepatan dan resolusi tinggi.

 

Mereka menemukan bahwa lalat dapat mengenali ancaman berdasarkan lokasi. Otaknya akan menghitung seberapa jauh ancaman terhdapnya sebelum memutuskan untuk mengepakkan sayap dan kabuuur. Setelah memprediksi arah ancaman, kakinya bertumpu untuk terbang ke arah yang berlawanan. Semua persiapan meloloskan diri dapat dilakukannya dengan sangat cepat, hanya100 milidetik setelah ia mendeteksi bahaya. “Ini menunjukkan begitu cepatnya otak lalat memproses informasi sensorik menjardi respons gerakan yang sesuai,” ujar Dickinson. Bahkan, lalat mengatur postur tubuhnya sesuai besar ancaman. Artinya, lalat telah mengitegrasikan dengan baik antara informasi visual dari mata dan informasi metasensorik dari kakinya. Temuan ini memberikan petunjuk mengenai sistem saraf lalat dan menunjukkan bahwa di otaknya terdapat sistem pemetaan posisi ancaman. “Ini sebuah transformasi rangsangan menjadi gerakan yang sedikit kompleks dan penelitian berikutnya mencari bagian otak yang mengaturnya,” ujarnya.

 

Dari sistem tersebut, Dickinson juga dapat menyarankan cara paling efektif memukul lalat. Menurutnya, waktu terbaik memukul lalat bukan saat posisinya siap akan terbang sehingga waktu yang dibutuhkannya untuk mengantisipasi ancaman tersebut relatif lebih lama. Tentu tak mudah melakukan gerakan akurat kurang dari 100 milidetik. Subhanallah..!!!!!

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s