“Perkataan yang baik dan pemberian maaf  lebih baik dari sedkah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (QS. Al Baqarah : 263)

 

Perayaan Idul Fitri merupakan aksentuasi perasaan kemenangan Umat Islam yang telah menempa mental dan keimanan selama satu bulan penuh dengan shaum (puasa). Bagi mukmin yang benar-benar menunaikan shaum dengan khusyuk dan ikhlas maka akan mendapatkan dampak luar biasa, bukan hanya pada Bulan Ramadhan namun setelah Bulan Ramadhanpun akan memberi manfaat, baik secara spiritual yang dapat meningkatkan kedekatan dengan Allah, maupun secara psikologis dengan penataan emosionalnya. Empati spiritual dn empati sosial yang telah tertanam pada masa ujian Ramadhan akan mengantarkan seseorang menemukan kesejatian kemanusiaannya. Perayaan tahunan Idul Firti merupakan ekspresi kemenangan, kegembiraan, dan kesenangan. Kemenangan didapatkan setelah menakhlukkan “hawa nafsu” selama Bulan Ramadhan. Kegembiraan didapatan bagi mereka yang telah diampuni dosanya. Kesenangan didapatkan begi mereka yang berkumpul dan bersilaturrohmi dengan keluarga dan sanak saudara. Pada saat inilah momen Idul Fitri mendorong untuk saling memaafkan, menghikangkan rasa dendam dan melupakan masa kelam  dengan seseorang, selanjutnya membuka hati untuk memulia lembaran silaturohim yang bernilai kebaikan.

 

Refleksi Memaafkan

Memaafkan merupakan kesediaan hati untuk menerima kesalahan masa lalu dan siap menata masa depan yang lebih baik. Memaafkan bukanlah sekedar tindakan lahiriyah untuk berjabat tangan untuk merefleksi kembali sikapnya, namun merupakan komitmen bathin untuk menerima dengan tulus kesalahan-kesalahan masa lalu. Secara filosofis bermakana kehendak untuk hidup dengan tanpa menengok kebelakang dan memupus kebencian dan dendam yang pernah membara. Memaafkan memiliki kekuatan besar, seseorang akan terbebas dari beban masa lalu, sehingga setelah memaafkan seseorang akan bisa bertindak lebih tegas pada  masa kini, bekerjasama dan mengadakan perbaikan tindakan. Perkataan dan sikapnya akan berusaha ma’ruf (baik) sehingga muncullah kesalehan sosial dan keharmonisan dalam menjalin hubungan persaudaraan. Idul Fitri merupakan momen yang baik untuk merefleksikan kata “maaf”. Apabila pada masa lalu dipenuhi dengan konflik dana rasa dendam, hubungan yang renggang dan persaudaraan yang putus, maka di hari yang fitri ini kita memulai momen untuk mengembalikan ikatan persaudaraan tersebut. Tidak ada manusia yang tidak pernah bersalah/berdosa, yang ada adalah manusia yang bersih dari dosa, maka mohonlah ampun kepada Allah (Istighfar) dan minta maaflah kepada sesama sehingga secara lahiriah dan batiniah akan terbebas dari dosa.

 

Memberi Maaf Merupakan Kemenangan Besar

Memaafkan kesalahan orang lain terkadang terasa mudah manakala kesalahannya tidak seberapa besar, namun jika masih trsimpan dendam boleh jadi memberi maaf akan terasa berat. Pada dasarnya kesalahan yang dilakukan manusia akan mendapatkan ganjaran dari Allah SWT, tanpa kita balaspun Allah Mah Tahu dan akan membalas perbuatan jahat yang akan dilakukan seseorang terhadap kita. Allah Maha Melihat dan Menghitung setiap kesalahan dan dosa hamba-Nya. Namun bagi hamba-Nya yang mau bertaubat dan memperbaikinya, Allahpun juga mengampuninya, jika Allahpun mengampuninya, jadi Allah yang Maha Mengingat setiap kesalahan kita dan bisa mengampuni kealahan kita karena rahmat-Nya.

 

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalaha dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirirmu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rosul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS. An Nisa’:79)

 

Apapun nikmat yang kita rasakan datangnya dari Allah, kehendak Allah, karena rahman dan rahim-Nyalah kita mendapatkan lenikmatan. Adapun musibah yang menimpa kita akan menyiratkan dua makna, apakah musibah  ini sebagai ujian atas keimanan kita ataukah hukuman (balasan setimpal atas kesalahan). Jadi kita tidak perlu bingung kalau kesalahan orang lain kepada kita tidak mendapatkan balasan, kita beri dia maaf, kita berdo’a agar dia menemukan kesadaran atas kesalahannya. Itulah tindakan seorang mukmin yang suka perdamaian bukan dendam. Allah Maha Menyaksikan siapapun hamba-Nya yang berbuat dosa, baik yang secara tersembunyi (rencana di hati, prasangka buruk) maupun yang nyata-nyata dilakukan. Maka momen Idul Fitri adalah puncak kemenangan jika kita dapat memaafkan kesalahan orang lain, karena dengan memaafkan kita telah membunuh rasa dendam kita, rasa dongkol kita dan akan berubah menjdi sebuah kepuasan bathin yang besar jika kita sanggup melakukannya dengan tulus ikhlas. Kita akan benar-benar merasa menang karena telah mengalahkan hawa nafsu kita. Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan orang lain, maka sesungguhnya  Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa. (QS. An Nisa’:149). Setelah kita melakuan shaum sebulan lamanya, maka hari kemenangan Idul Fitri akan kita sempurnakan memberi maaf atas kesalahan saudara, teman, dan sahabat. Sebuah kemenangan yang besar dan akan berdampak besar bola kita sanggup melakukannya. Ada beberapa langkah untuk membimbing kita kepada puncak kemenangan dengan memaafkan, yaitu :

 

1.    Mengingat Sekaligus Memaafkan

Pemaafan hanya cenderung difahami dengan sekedar melupakan kesalahan orang lain saja, padahal perlu untuk mengingat sekaligus memafkan, karena proses ini sebagai muhasabah, yakni saling menghitung atau menimbang, sehingga massing-masing saling instropeksi diri dan menilai secara moral atas dampak perbuatan yand diperbuatnya. Refleksi ini akan menimbulkan penyesalan yang dalam atas kesalahannya yang diperbuat dan memudahkan kita untuk memberi maaf karena kesadarannya.

 

2.    Memutuskan Kompensi

Kita tidak perlu kompensasi untuk memberi maaf, tulus saja itulah inti memberi maaf, bukan minta ganti atas apa yang telah diperbuat kepada kita, namun bukan berarti menghilangkan proses tindakaan kesalahan tapi keikhlasan kita menerima kenyataan bahwa kesalahan-kesalahan adalah proses sebuah pendewasaan sifat kita.

 

3.    Membangkitkan Empati

Tidak ada jaminan seseorang untuk tidak berbuat salah, sebaik-baik seseorang pasti memiliki potensi berbuat jahat dan sejahat-jahatnya seseorang pasti mempunyai naluri untuk berbuat baik. Jadi sikap empati kepada pelaku kejahatan dengan memaafkan berarti memberi kesempatan baginya untuk memperbaiki diri.

 

4.    Memperbaharui Hubungan

Memberi maaf berarti, kesiapan untuk hidup berdampingan secara damai dengan orang yang telah kita beri maaf. Memaafkan akan memberi manfaat yang luar biasa karena keharmonisan akan terjalin kembali dan mensinerginkan kemampuan menata masa depan yang lebih cemerlang.

 

Mencapai puncak di hari kemenangan dengan memberi maaf atas kesalahan orang lain akan memberikan manfaat kesalehan sosial yng berkelanjutan. Berilah maaf, kita akan terbebas dari rasa dendam, sara benci dan rasa kecewa. Ikhlaskan saja  semuanya, pasrahkan kepada Allah atas apa yang diperbuatnya, karena Allah tidak tidur dan Maha Kuasa. Semoga ia segera menyadarai kesalahannya dan menata kembali keharmonisan untuk meraih harapan yang lebih baik. Kita akan merasakan kemenangan yang luar biasa karena telah mengalahkan hawa nafsu yang berupa dendam, benci, dan kecewa. SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA RAMADHAN 1432 H SEMOGA AMAL IBADAH KITA DITERIMA ALLAH SWT. DAN KITA BISA DIBERI KEMENANGAN DI HARI IDUL FIRTI DENGAN SALING MEMAAFKAN SEGALA KESALAHAN YANG PERNAH ORANG LAIN LAKUKAN PADA KITA😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s