BAB 1

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Kesultanan Banten berawal ketika Kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke daerah barat. Pada tahun 1524/1525, Sunan Gunung Jati bersama pasukan Demak merebut pelabuhan Banten dari kerajaan Sunda, dan mendirikan Kesultanan Banten yang berafiliasi ke Demak. Menurut sumber Portugis, sebelumnya Banten merupakan salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda selain pelabuhan Pontang, Cigede, Tamgara (Tangerang), Sund Anak dari Sunan Gunung Jati (Hasanudin) menikah dengan seorang putri dari Sultan Trenggono dan melahirkan dua orang anak. Anak yang pertama bernama Maulana Yusuf. Sedangkan anak kedua menikah dengan anak dari Ratu Kali Nyamat dan menjadi Penguasa Jepara.

Terjadi perebutan kekuasaan setelah Maulana Yusuf wafat (1570). Pangeran Jepara merasa berkuasa atas Kerajaan Banten daripada anak Maulana Yusuf yang bernama Maulana Muhammad karena Maulana Muhammad masih terlalu muda. Akhirnya Kerajaan Jepara menyerang Kerajaan Banten. Perang ini dimenangkan oleh Kerajaan Banten karena dibantu oleh para ulama.

RUMUSAN MASALAH

Pada zaman pemerintahan Sultan Haji, tepatnya pada 12 Maret 1682, wilayah Lampung diserahkan kepada VOC. seperti tertera dalam surat Sultan Haji kepada Mayor Issac de Saint Martin, Admiral kapal VOC di Batavia yang sedang berlabuh di Banten. Surat itu kemudian dikuatkan dengan surat perjanjian tanggal 22 Agustus 1682 yang membuat VOC memperoleh hak monopoli perdagangan lada di Lampung

Pada masa pemerintahan Abu Fatah Abdulfatah atau lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu Pelabuhan Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju pesat.

 

BAB II

AWAL BERDIRINYA KESULTANAN BANTEN

 

AWAL BERDIRINYA

Kesultanan Banten berawal ketika Kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke daerah barat. Pada tahun 1524/1525, Sunan Gunung Jati bersama pasukan Demak merebut pelabuhan Banten dari kerajaan Sunda, dan mendirikan Kesultanan Banten yang berafiliasi ke Demak. Menurut sumber Portugis, sebelumnya Banten merupakan salah satu pelabuhan Kerajaan Sunda selain pelabuhan Pontang, Cigede, Tamgara (Tangerang), Sunda Kalapa dan Cimanuk.

Anak dari Sunan Gunung Jati (Hasanudin) menikah dengan seorang putri dari Sultan Trenggono dan melahirkan dua orang anak. Anak yang pertama bernama Maulana Yusuf. Sedangkan anak kedua menikah dengan anak dari Ratu Kali Nyamat dan menjadi Penguasa Jepara.

Terjadi perebutan kekuasaan setelah Maulana Yusuf wafat (1570). Pangeran Jepara merasa berkuasa atas Kerajaan Banten daripada anak Maulana Yusuf yang bernama Maulana Muhammad karena Maulana Muhammad masih terlalu muda. Akhirnya Kerajaan Jepara menyerang Kerajaan Banten. Perang ini dimenangkan oleh Kerajaan Banten karena dibantu oleh para ulama.

PUNCAK KEJAYAAN

Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Abu Fatah Abdulfatah atau lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Saat itu Pelabuhan Banten telah menjadi pelabuhan internasional sehingga perekonomian Banten maju pesat. Wilayah kekuasaannya meliputi sisa kerajaan Sunda yang tidak direbut kesultanan Mataram dan serta wilayah yang sekarang menjadi provinsi Lampung. Piagam Bojong menunjukkan bahwa tahun 1500 hingga 1800 Masehi Lampung dikuasai oleh kesultanan Banten.

MASA KEKUASAAN SULTAN HAJI

Pada zaman pemerintahan Sultan Haji, tepatnya pada 12 Maret 1682, wilayah Lampung diserahkan kepada VOC. seperti tertera dalam surat Sultan Haji kepada Mayor Issac de Saint Martin, Admiral kapal VOC di Batavia yang sedang berlabuh di Banten.Suratitu kemudian dikuatkan dengansuratperjanjian tanggal 22 Agustus 1682 yang membuat VOC memperoleh hak monopoli perdagangan lada di Lampung

PENGHAPUSAN KESULTANAN

Kesultanan Banten dihapuskan tahun 1813 oleh pemerintah kolonial Inggris. Pada tahun itu, Sultan Muhamad Syafiuddin dilucuti dan dipaksa turun takhta oleh Thomas Stamford Raffles. Tragedi ini menjadi klimaks dari penghancuran Surasowan oleh Gubernur-Jenderal Belanda, Herman William Daendels tahun 1808.[1]

Daftar pemimpin Kesultanan Banten

Sunan Gunung Jati

Sultan Maulana Hasanudin 1552 – 1570

Maulana Yusuf 1570 – 1580

Maulana Muhammad 1585 – 1590

Sultan Abdul Mufahir Mahmud Abdul Kadir 1605 – 1640 (dianugerahi gelar tersebut pada tahun 1048 H (1638) oleh Syarif Zaid, Syarif Makkah saat itu.[2])

Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad 1640 – 1650

Sultan Ageng Tirtayasa 1651-1680

Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji) 1683 – 1687

Abdul Fadhl / Sultan Yahya (1687-1690)

Abul Mahasin Zainul Abidin (1690-1733)

Muhammad Syifa Zainul Ar / Sultan Arifin (1750-1752)

Muhammad Wasi Zainifin (1733-1750)

Syarifuddin Artu Wakilul Alimin (1752-1753)

Muhammad Arif Zainul Asyikin (1753-1773)

Abul Mafakir Muhammad Aliyuddin (1773-1799)

Muhyiddin Zainush Sholihin (1799-1801)

Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin (1801-1802)

Wakil Pangeran Natawijaya (1802-1803)

Aliyuddin II (1803-1808)

Wakil Pangeran Suramanggala (1808-1809)

Muhammad Syafiuddin (1809-1813)

Muhammad Rafiuddin (1813-1820)

MASA KEMUNDURAN KESULTANAN BANTEN

Di ujung barat Jawa, terdapat Kerajaan Banten, yang meskipun wilayahnya lebih kecil namun memiliki kekuatan armada dagang yang jauh lebih kuat dibandingkan Mataram. Pada masa Sultan Ageng (1651-1683), yang dikenal dengan sebutan Sultan Tirtayasa, Banten berhasil membangun armada dagang dengan menggunakan model Eropa. Kapal-kapal Banten yang menggunakansurat jalan dari orang Eropa banyak melayari jalur-jalur perdagangan Nusantara. Bahkan, melalui hubungan baiknya dengan Inggris, Denmark dan Cina, Banten dapat berdagang dengan Persia, India, Siam, Vietnam, Filipina, dan Jepang. Kegiatan perdagangan Internasional jarak jauh Banten ini tidak disukai oleh VOC yang ingin memonopoli perdagangan lada. Akan tetapi, seperti Mataram, kemunduran Banten sendiri disebabkan oleh munculnya konflik di dalam negeri, yang kemudian mengundang campur tangan VOC.

Pada saat itu, putera mahkota yang baru naik tahta, yang kemudian bergelar Sultan Haji (1682-1687), ingin menjalin hubungan yang erat dengan VOC. Akan tetapi, kebijakan tersebut ditentang oleh ayahnya, Sultan Tirtayasa, dan para elit politik Muslim yang lebih militan. Pertentangan ini akhirnya meletus menjadi konflik bersenjata.

Pada tahun 1680, Sultan Tirtayasa mengumumkan perang ketika para pedagang Banten dianiaya oleh VOC. Sultan Haji, yang kedudukannya semakin terjepit karena dijauhi para elit politik dan agama Islam, akhirnya menerima semua prasyarat yang diajukan VOC sebelum membantunya. Tuntutan VOC itu antara lain sebagai berikut :

1. semua perampok yang mengacaukanBataviaharus dihukum dan VOC diberi ganti rugi

2. Banten harus menarik kembali dukungannya terhadap para pemberontak Mataram yang melawan VOC

3. Banten tidak boleh lagi melakukan hubungan dagang dengan para pedagang lain, terutama pedagang Eropa, kecuali dengan VOC

Pada bulan Maret 1682, sebuah armada VOC di bawah pimpinan Francois Tack dan Isaac de Saint Martin berlayar menuju Banten. Pada saai itu, Sultan Haji berada dalam kedudukan yang kritis karena terkepung oleh pasukan ayahnya. Kedatangan pasukan VOC itu menyelamatkannya dan kemudian dengan bantuan mereka Sultan Haji berbalik mengusir pendukung ayahnya ke pedalaman. Setelah melakukan perlawanan sengit, akhirnya pada bulan Maret 1683, Sulatan Ageng maupun pembantunya yang bernama Syaikh Yusuf, seorang ulama asal Makassar, tertangkap. Sultan Ageng sendiri akhirnya dibawa keBatavia dan meninggal disana sementara Syaikh Yusuf dibuan ke Tanjung Harapan di Afrika. Kemenangan Sultan Haji dengan bantuan VOC ini sekaligus mengakhiri masa kejayaan dan kemerdekaan Banten.

Meskipun demikian, perlawanan rakyat Banten masih terus berlangsung, antara lain di bawah pimpinan Kyai Tapa dan Ratu Bagus Buang (pewaris tahta Banten yang sempat dibuang VOC). Mereka melancarkan perang gerilya terhadap kepentingan VOC di Selat Sunda,Bandung, dan Buitenzorg (Bogor), sebelum akhirnya bergabung dengan para pembentuk di Mataram.Setelah itu gerakan mereka lenyap.

BAB III

KESIMPULAN

 

Kesultanan Banten berawal ketika Kesultanan Demak memperluas pengaruhnya ke daerah barat. Pada tahun 1524/1525, Sunan Gunung Jati bersama pasukan Demak merebut pelabuhan Banten dari kerajaan Sunda, dan mendirikan Kesultanan Banten yang berafiliasi ke Demak.

Tuntutan VOC itu antara lain sebagai berikut :

1. semua perampok yang mengacaukanBataviaharus dihukum dan VOC diberi ganti rugi

2. Banten harus menarik kembali dukungannya terhadap para pemberontak Mataram yang melawan VOC

3. Banten tidak boleh lagi melakukan hubungan dagang dengan para pedagang lain, terutama pedagang Eropa, kecuali dengan VOC

Perlawanan rakyat Banten masih terus berlangsung, antara lain di bawah pimpinan Kyai Tapa dan Ratu Bagus Buang (pewaris tahta Banten yang sempat dibuang VOC). Mereka melancarkan perang gerilya terhadap kepentingan VOC di Selat Sunda,Bandung, dan Buitenzorg (Bogor), sebelum akhirnya bergabung dengan para pembentuk di Mataram.Setelah itu gerakan mereka lenyap.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 http://www.sma2mks.com/index.php?option=com_content&tesk=view&id=843&itemid=78

M. Iskandar,dkk, Indonesia Dalam Perkembangan Zaman: kesultanan Banten.Depok: Ganeca Exact,2004.

Komentar
  1. Aminnudin mengatakan:

    Saya suka sekali literal sejarah nusantara, mengenal dimana wilayah TAMGARA telah masyur pada masa kerajaan Sunda (sebelum Tarumanegara), artikel anda telah mengingatkan saya pada perjalanan kejayaan BANTAM (Banten) yg telah memilik struktural bagus dengan Duta Besar untuk Kerajaan Inggris yg sedikit terlewat pada ulasan itu, padahal baru-baru ini uang coin Banten telah menggemparkan telinga kita, bagaimana di sungai theme ada coin itu….. thanks for history

  2. dwiluky mengatakan:

    iaa thanks sudah mampir di blogq, aapalagi suka dengan literatur ini. Semoga bermanfaat untuk anda. Salam kenal😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s