PENDAHULUAN

 

 

Pemikiran Islam adalah pemikiran yang khas, lain daripada yang lain. Sebab pemikiran Islam berasal dari wahyu atau bersandarkan pada penjelasan wahyu, sedangkan pemikiran-pemikiran yang lain yang berkembang di antara manusia, baik itu berupa agama-agama non samawi, ideologi-ideologi politik dan ekonomi, maupun teori-teori sosial sekedar muncul dari kejeniusan berfikir manusia yang melahirkannya.

Namun perlu disadari, bahwa sekalipun pemikiran Islam berasal dari wahyu yang turun dari langit, pemikiran islam diturunkan ke bumi untuk menjadi petunjuk bagi manusia di bumi. Oleh karena itu, agar bisa memahami keberadaan pemikiran islam sebagai petunjuk amal perbuatan manusia, maka perlu dipahami karakteristik pemikiran Islam. Dalam makalah ini akan di bahas tentang aliranpemikiran islam, meliputi fiqih, filsafat, teologi islam dan tasawuf berikut tokoh-tokoh dan pemikirannya masing-masing.

 

 

 


 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

Karakteristik Pemikiran Islam

Pemikiran Islam mempunyai beberapa ciri khas, antara lain: bersifat komprrehensif (syumuliyah), luas, praktis (amally), dan manusiawi.

• Bersifat Komperhensif

Pemikiran Islam mengatur semua aspek kehidupan manusia , seperti politik, sosial kemasyarakatan, perekonomian, kebudayaan dan akhlak. Islam hadir dengan membawa aturan yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain. Aturan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya tercakup dalam perkara akidah dan ibadah. Sedangkan aturan yang mengatur hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri tercakup dalam hukum-hukum tentang makanan, pakaian, dan akhlak. Selebihnya adalah aturan yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lain, seperti perkara muamalah ekonomi dan sosial, sanksi-sanksi hukum bagi para pelanggar hukum (uqubat), politik ketatanegaraan, pertahanan dan keamanan, politik luar negeri dengan dakwah dan jihad fi sabilillah. Semua persoalan dari sejak Islam turun ke bumi 15 abad yang lalu hingga hari kiamat, semua masalah pasti tercakup dalam perkara yang dipecahkan oleh Islam. Kalau sekilas saja kita membaca buku-buku fiqih, kita akan mendapatkan bahwa masalah yang dipecahkan oleh syariah itu tidak hanya masalah ritual belaka, tapi seluruh masalah kehidupan.

• Bersifat Luas

Keluasan pemikiran Islam memungkinkan Para Ulama untuk melakukan istinbath (menggali) hukum-hukum syari’iy dari nash-nash syariat-syariat tentang perkara baru apapun jenisnya, baik perbuatan ataupun benda. Dalil-dalil syariat hadir dalam bentuk gaya bahasa yang mampu mencakup perkara apa saja hingga hari kiamat.

• Bersifat Praktis

Pemikiran Islam telah diterapkan di tengah-tengah manusia selama 13 abad, dalam naungan negara besar di dunia, Daulah Khilafah Islamiyah. Pemikiran-pemikiran islam yang dituangkan dalam hukum syariah yang sudah pernah diterapkan adalah: hukum syariah tentang pemerintahan (nizhamul hukm fil Islam), hukum syariah tentang ekonomi (nizhamul iqtishadi fil Islam), hukum syariah tentang hubungan sosial atau aturan pergaulan pria wanita (an nizhamul ijtima’i fil Islam), hukum-hukum syariah tentang kebijakan pendidikan (siyasah at ta’lim fil Islam), hukum-hukum syariah tentang politik luar negeri negara islam (siyasah kharijiyah lid daulah al Islamiyah). Hukum-hukum Islam hadir untuk diterapkan dan dilaksanakan ditengah-tengah kehidupan. Manusia tidak akan dibebani melebihi yang dia sanggupi .

• Bersifat Manusiawi

Islam menyeru kepada manusia dalam kapasitasnya sebagai manusia, tanpa melihat lagi ras atau warna kulitnya . Dan dalam seruannya menyuruh seluruh manusia agar menyembah Allah Yang Satu. Orang-orang selain orang Arab pun telah beriman pada agama ini, seperti Persia, Romawi, Asia Tengah, India, Indonesia dan sebagainya. Demikianlah, Islam telah mengeluarkan mereka dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya hidayah, dari keterpurukan menuju kebangkitan.

 

B. Perkembangan Awal Pemikiran Islam

 

Proses pembentukan pemikiran itu diawali dengan peritiwa-peristiwa, misalnya ada persentuhan pendapat, agama, kebudayaan atau peradaban antara satu dengan lainnya. Persentuhan tersebut terkadang menimbulkan bentrokan atau akulturasi bahkan tidak jarang terjadi asimulasi. Proses perkembangan pemikiran muslim, terdapat dalam tiga fase dan erat kaitannya dengan sejarah Islam.

Pertama, akibat adanya pergolakan politik pada masa kekhalifahan Ali, menimbulkan perang Shiffin [antara Ali dan Muawiyah] dan perang Jamal [antara Ali dan Aisyah]. Adanya kasus perang ini menjadi faktor utama munculnya golongan Khawarji. Pergolakan politik itu diruncingkan oleh adanya pendapat Khawarij, bahwa orang-orang yang terlibat dalam perang Shiffin dan Jamal adalah berdosa besar dan kafir. Menetapkan Ali sebagai kafir sangat ditentang oleh sekelompok muslim yang selanjutnya disebut Syi’ah, sehingga terjadilah pertentangan hebat antara sesama muslim. Dalam setiapkemelut yang tidak menyenangkan itu, muncul sekelompok muslim yang berusaha menjauhkan diri dan tidak ingin melibatkan diri dengan selisih pendapat tersebut, bahkan ada pula sekelompok muslim yang tidak ingin menyalahkan orang lain atau kelompok lainnya; namun dalam pada itu sempat ula meeka mengeluarkan faktanya bahwa segala hukum perbuatan manusia yang belum jelas nashnya, ditangguhkan hukumnya sampai diakhirat kelak. Mereka itu kelompok Murji’ah.

Kedua, akibat ekspansi Islam ke Barat sampai ke Spanyol dan Perancis, ke Selatan sampai ke Sudan, Ethiopia dan seterusnya, ke Timur sampai India dan seterusnya. Dan ke Utara sampai ke Rusia. Ekspansi yang dilakukan oleh Islam, ternyata tidak hanya berdampak pada penyebaran ajaran saja, tetapi juga semakin memperkaya khazanah kebudayaan Islam. Hal ini dikarenakan akulturasi budaya Arab-Islam dengan budaya-budaya lokal daerah yang ditaklukkan.

Salah satu budaya tau tradisi yang pada akhirnya banyak terserap dan teradopsi oleh Islam adalah tradisi Yunani danHellenistiknya yang bersifat spekulatif. Perembesan budaya ini disamping karena interaksi kaum muslimin dengan orang-orang yang mempelajari tradisi spekulatif Yunani, juga karena penerjemahan secara besar-besaran khazanah intelektual Yunani ke dalam bahasa Arab pada masa Abbasiyyah.

Ketiga, akibat adanya perubahan masyarakat dari masyarakat Tradisional menjadi masyarakat modern, dari pandangan cakrawala berpikir yang regional menjadi yang lebih luas lagi. Kehidupan pribadi makin lama makin kompleks, menimbulkan masalah-masalah baru yang memerlukan pemecahan.

Ketiga faktor di atas memberikan pengaruh kuat bagi pertumbuhan dan perkembangan pemikiran dalam Islam, di samping tentu saja banyaknya sugesti berupa ayat-ayat yang menganjurkan tentang pengembangan kemampuan berpikir. Ada banyak ayat dalam al Qur’an yang baik secara langsung maupun tidak mendesak manusia untuk berpikir, merenung atau bernalar.

Ada yang terungkap melalui idiom yatafakkarun yang berarti mereka berpikir sebanyak 12 ayat, tafakkarun yang berarti kalian berpikir sebanyak 4 ayat, ya’qiiun yang berarti mereka menggunakan akal sebanyak 22 ayat, ta’qilun yang berarti kalian menggunakan akal sebanyak 24 ayat, na’qilu yang berarti kami menggunakan akal sejumlah satu ayat, ya’qilu yang berarti dia menggunakan akal sejumlah 1 ayat, yatadabbarun yang berarti mereka merenung sebanyak 2 ayat, yanzhurun yang berarti mereka bernalar sebanyak 27 ayat, tanzhurun yang berarti kalian bernalar sebanyak 3 ayat dan lain sebagainya.

Selain perintah untuk menggunakan akal untuk berpikir, merenung, dan sejenisnya, al Qur’an juga menggunakan kata ‘ilm dalam berbagai bentuk dan artinya sebanyak 854 kali. Antara lain sebagai proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan. Di dalam al Qur’an juga terdapat lebih dari 750 ayat yang menunjukkan kepada fenomena alam, dan manusia diminta untuk dapat memikirkannya agar dapat mengenal Tuhan lewat tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Lebih lanjut, Ibnu Khaldun mencatat bahwa kunci dari maraknya peradaban Islam adalah tradisi kebebasan berpikir dan independensi ulama dari ranah politik. Ulama, menurutnya, adalah sosok yang mampu melakukan analisis dan menangkap makna-makna yang tersirat, baik dalam ranah sosial maupunteks keagamaan. Konsentrasi para ulama dalam ranah pengetahuan keagamaan, dalam sejarah peradaban Islam, telah membuktikan lahirnya peradaban yang sangat adiluhung serta membawa pada pencerahan yang dapat dirasakan masyarakat di seantero dunia. Buah dari itu semua, pemikiran Islam telah menjadi gerbang pencerahan bagi Eropa dan Barat.

Karena itu, perlu kita menghidupkan kembali tradisi intelektual yang bebas, dialogis, inovatif, kreatif. Ibnu Rushd dalam Fashl al- Maqal bi ma bayn al-Hikmah wa al-Syari’ah min al-Ittishal [1982], mempunyai pesan menarik, bahwa hikmah, penalaran, dan filsafat adalah sahabat agama [syariat], dan saudara sesusuan. Agama dan kebebasan berpikir merupakan dua mata uang logam yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan Al Qur’an dalam puluhan ayatnya menyebutkan pentingnya berpikir.

 

 

 

C. Varian Pemikiran Islam

 

Keberadaan dan perkembangan ilmu-ilmu Islam dimulai sejak kerasulan Nabi Muhammad SAW. Pusaran ilmu itu ialah al Qur’an dan sunnah atau hadis yang kemudian melahirkan berbagai cabang ilmu. Situasi ini didukung oleh perkembangan bahasa Arab yang telah digunakan jauh sebelum masa kerasulan Nabi Muhammad SAW, sehingga posisi bahasa Arab mengambil peran penting bagi perkembangan ilmu Islam selanjutnya. Kondisi seperti ini disebabkan oleh sumber ilmu Islam yang menggunakan bahasa Arab sebagai medium komunikasi ke wilayah publik.

Adanya ekspansi umat Islam ke berbagai wilayah turut memperkaya khazanah intelektual muslim. Berbagai keilmuan Islam pun lahir sebagai bagian dari proses interaksi Islam dengan budaya-budaya lain, seperti Yunani, Persia, India, dan lain sebagainya. Lahirnya bidang keilmuan seperti filsafat, ilmu kalam, dan tasawuf tidak bisa dilepaskan dari interaksi-interaksi tersebut.

Berikut ini akan dipaparkan dinamika beberapa varian pemikiran Islam, yang merupakan khazanah Islam yang senantiasa harus terus dipelihara dan dijaga keberadaannya, serta dikembangkan sesuai dengan perubahan yang menyertai perputaran dunia ini.

 

1. Bidang Kalam [Teologi]

 

Kalam secara harfiah berarti pembicaraan. Istilah ini merujuk pada sistem pemikiran spekulatif yang berfungsi untuk mempertahankan Islam dan tradisi keislaman dari ancaman maupun tantangandari luar. Para pendukungnya, mutakallimun, adalah orang-orang yang menjadikan dogma atau persoalan-persoalanteologis kontroversial sebagai topik diskusi dan wacana dialetik, dengan menawarkan bukti-bukti spekulatif untuk mempertahankan pendirian mereka.

Definisi di atas nampaknya mengamini paparan Ibn Khaldun, yang menyatakan bahwa teologi atau kalam adalah ilmu yang mempergunakan bukti-bukti logis dalam mempertahankan akidah keimanan dan menolak pembaharu yang menyimpang dalam dogma yang dianut kaum muslimin pertama dan ortodoks Muslim. Para ulama sepakat bahwa tauhid adalah dasar utama dan pertama dalam ajaran Islam. Ketauhidan zaman Nabi ditanamkan oleh beliau melalui sikap dan tingkah laku bertauhid, yang apabila ada suatu masalah, bisa langsung ditanyakan kepada Nabi.

Isu pertama yang berakibat langsung pada keretakan masyarakat Muslim sesaat setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. adalah perkara keabsahan pengganti Nabi saw. atau khalifah. Setelah khalifah Utsman ibn ‘Affan terbunuh pada 656, isu pengganti Nabi saw. ini semakin mengemuka. Puncaknya, bentrokan antara pendukung ‘Al ibn Thalib yang juga menantu nabi saw. dan Mu’awiyah sebagai kerabat khalifah yang terbunuh dan Gubernur Damaskus tak bisa dielakkan.

Sebagian umat Islam telah berani membuat analisis tentang pembunuhan Utsman tersebut, apakah si pembunuhnya berdosa ataukah tidak, bahkan tidak sampai di situ saja, tetapi juga dianalisis siapa yang menggerakkan tangan si pembunuh itu, apakah manusia sendiri ataukah Tuhan, hal ini, yang mungkin menjadi cikal bakal tumbuhnya paham Jabariah dan Qadariah.

Perselisihan umat Islam tersebut di atas terus berlanjut, hingga berpuncak pada peristiwa arbitrase, yaitu upaya penyelesaian sengketa antara Ala bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan pada perang Shiffin dan perselisihan Ali ibn Abi Thalib dengan Aisyah pada perang Jamal. Peristiwa-peristiwa ini cukup banyak andilnya dalam melahirkan aliran atau mazhab dalam ilmu kalam [teologi].

Dalam perang Shiffin terjadi perdamaian atau tahkim antara pihak Ali dan Mu’awiyah, akan tetapi perdamaian tersebut tidak dapat diterima oleh sebagian pengikut Ali ibn Abi Thalib. Mereka itu dipelopori oleh Asy’ts ibn Qayis yang dalam perkembangan selanjutnya mereka itu disebut Khawarij. Kelompok Khawarij berfatwa bahwa orang yang terlibat dengan tahkim, baik menyetujui dan apalagi melaksanakannya dihukumkan berdosa besar dan setiap orang yang berdosa besar meninggal dunia tanpa tobat, maka itu adalah kafir. Salah satu alasan mereka karena tidak atau ingkar menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim.

Penentuan seseorang kafir atau tidak kafir bukan lagi soal politik, tetapi soal teologi. Kafir adalah orang yang tidak percaya, lawannya mu’min artinya orang yang percaya. Kedua istilah ini dalam al Qur’an biasanya berlawanan. Kata kafir yang ditujuan pada golongan di luar Islam, Oleh Khawarij dipergunakan dengan makana yang berbeda, yaitu untuk golongan yang berada dalam Islam sendiri.

 

2. Bidang Fikih

 

Islam sebagaimana dikenal, mulai dari Madinah merupakan negara dan sebagai negara tentunya harus mempunyai lembaga hukum, untuk mengatur hidup kemasyarakatan warganya. Hukum yang dipakai dalam Islam berdasar pada wahyu, dan kalau diperhatikan sejarah turunnya wahyu, akan kelihatan bahwa ayat-ayat yang mengandung soal-soal hidup kemasyarakatan memang diturunkan di Madinah. Ayat-ayat yang mengandung dasar hukum, baik ibadah maupun hidup kemasyarakatan, disebut ayat ahkam.

Pada masa Nabi, karena segala persoalan dikembalikan kepada Nabi untuk menyelesaikannya, Nabi lah yang menjadi satu-satunya sumber hukum. Segala ketentuan hukum yang dibuat Nabi itu sendiri bersumber pada wahyu dari Tuhan. Pada masa sahabat, daerah yang dikuasai Islam bertambah luas dan termasuk ke dalamnya daerah-daerah di luar Semenanjung Arabia yang telah mempunyai kebudayaan tinggi dan susunan masyarakat yang bukan sederhana, diperbandingkan dengan masyarakat Arabia ketika itu. Dengan demikian, persoalan-persoalan kemasyarakatan yang timbul didaerah-daerah baru itu lebih sulit penyelesaiannya dari persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat Semenanjung Arabia sendiri.

 

Untuk mencari penyelesaian bagi soal-soal baru itu, para Sahabat kembali kepada al Qur’an dan Sunnah. Tetapi, sebagaimana diketahui ayat ahkam berjumlah sedikit dan tidak semua persoalan yang timbul dapat dikembalikan kepada al Qur’an atau Sunnah Nabi, maka untuk itu Khalifah dan sahabat mengadakan ijtihad. Proses ijtihad pada aspek hukum ini semakin dibutuhkan dengan pada fase-fase selanjutnya. Seiring dengan banyaknya mujtahid [ pelaku ijtihad ], maka produk yang dihasilkannya pun sangat beragam.

 

3. Bidang Filsafat

 

Filsafat dan agama berbicara tentang hal yang sama,yaitu manusia dan dunianya. Apabila yang satu membawa kebenaran yang berasal dari Sang Pencipta Manusia dan dunianya itu, dan yang lainnya dari akal manusia yang selalu diliputi kekurang jelasan dan ketidakpastian.

 

4. Bidang Tasawuf

 

Tasawuf adalah tingkah laku dan perasaan; tingkah laku yang menjauhi segala keinginan dan hal-hal yang memesona dan ditujukan demi kesucian jiwa dan tubuh. Perasaan cinta dan bahagia, manakala seorang murid [ orang yang berkehendak ] mencapai dua kesucian ini.  Tasawuf juga berarti amal dan analisa; amal yang berlandaskan pada mujahadah [memerangi hawa nafsu sendiri] dan mujahadah [ ketahanan diri menghadapi bencana ] pusa di siang hari dan beribadah sunnah di malam hari, mengorbankanjiwa dan harta yang nampak ke dalam alam batin. Akhirnya tasawuf adalah ada dan tiada; tiada bagi orang yang tergesa dan ada bagi orang yang tidak tergesa [mementingkan akhirat, al Ajil]. Tiada bagi orang yang sirna dan ada bagi orang yang kekal, tiada bagi manusia dan ada bagi Tuhan.

Tasawuf secara ringkas adalah mata rantai yang terdiri atas kondisi-kondisi  [al-ahwal] dan maqam-maqam, yang satu sama lain saling merupakan anak tangga. Orang yang mau menjadi sufi memulai langkah dengan membersihkan jiwanya, agar bisa menjadi orang yang berhak menerima tajalli [penampakan], selalu meningkat hingga bisa merasakan Allah [ada] di relung jiwanya dan demukian dekat dengan-Nya. Kajian-kajian tasawuf dalam Islam tidak terbentuk sekaligus, tetapi berkembang menembus perjalanan waktu melewati fase-fase tertentu secara bertahap[45]. Tasawuf Islam melewati berbagai fase. Pertama, tampil dalam bentuk ibadah dan zuhud. Disini seseorang meninggalkan dunia dan menuju akhirat serta secara teguh berusaha melakukan hal-hal yang bisa menjadi taat dan dekat kepada Allah. Kaum tasawuf Islam membutuhkan waktu kira-kira dua abad dalam kondisi demikian. Kaum zuhud generasi pertama amat banyak, antara lain al Hasan al Basri [110 H / 728 M] sebagai tokoh kaum zuhud Basrah, Ibrahim bin Adham [159H / 776 M] sebagai tokoh zuhud Balkh, dan Rabi ah al Adawiyyah sebagai tokoh kaum zuhud wanita.

Dalam beribadah kebanyakan kaum sufi pada fase ini mencari tempat-tempat yang terisolir dari manusia. Tasawuf kemudian nyaris tidak keluar dari bentuk tingkah laku [al suluk ] dan kemampuan amaliah, yang ditujukan untuk menyucikan jiwa dan tubuh. Pada fase ini juga tasawuf tidak banyak mementingkan kajian atau studi, di samping tidak berusaha meletakkan teori maupun penyebaran pikiran.

Pada fase kedua, kaum sufi mulai melakukan kajian teoritis. Untuk itu, pertama-tama mereka berorientasi pada jiwa untuk disingkapkan rahasia-rahasianya, dijelaskan segala kondisi dan maqamnya. Sebagai bukti, mereka membicarakan tentang  keasyikan dan kerinduan, takut dan harapan, cinta dan emosi, tiada dan ada, fana’ dan kekal. Mereka mencari cinta ilahi di mana saja bisa ditemukan. Mereka membicarakan pemecahan terhadapbanyak masalah, mirip dengan kajian-kajian psikologis.

 

 

KESIMPULAN

 

Pemikiran Islam adalah pemikiran yang khas, lain daripada yang lain. Sebab pemikiran Islam berasal dari wahyu atau bersandarkan pada penjelasan wahyu, sedangkan pemikiran-pemikiran yang lain yang berkembang di antara manusia, baik itu berupa agama-agama non samawi, ideologi-ideologi politik dan ekonomi, maupun teori-teori sosial sekedar muncul dari kejeniusan berfikir manusia yang melahirkannya.

Pemikiran Islam mempunyai beberapa ciri khas, antara lain: bersifat komprrehensif (syumuliyah), luas, praktis (amally), dan manusiawi.

Perkembangan Awal Pemikiran Islam. Proses pembentukan pemikiran itu diawali dengan peritiwa-peristiwa, misalnya ada persentuhan pendapat, agama, kebudayaan atau peradaban antara satu dengan lainnya. Persentuhan tersebut terkadang menimbulkan bentrokan atau akulturasi bahkan tidak jarang terjadi asimulasi. Proses perkembangan pemikiran muslim, terdapat dalam tiga fase dan erat kaitannya dengan sejarah Islam.

Varian Pemikiran Islam terdiri dari : 1. Bidang Kalam [Teologi], 2. Bidang Fikih, 3. Bidang Filsafat, 4. Bidang Tasawuf

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://sanaky.staff.uii.ac.id/2009/02/05/bahan-kuliah-dinamika-pemikiran-dalam-islam/

http://cahayakemuliaan.wordpress.com/2010/03/27/276/#more-276

http://cahayakemuliaan.wordpress.com/category/makalah/

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s