A.     AWAL BERDIRINYA KERAJAAN MAJAPAHIT

 

Dalam sejarah Indonesia masa kekuasaan Kerajaan Majapahit merupakan suatu masa yang paling mengesankan, karena dalam masa ini di Indonesia terdapat suatu kerajaan besar yang disegani oleh banyak negara asing dan membawa keharuman nama Indonesia samapai jauh ke luar wilayah negara Indonesia.

 

Namun sejarah Majapahit pada hakikatnya menerima banyak unsur-unsur politis, kebudayaan dan sosial ekonomi dari Kerajaan Singasari. Oleh karena itu membahas sejarah Kerajaan Majapahit, terutama pada awal perkembangannya harus pula ditinjau sejarah Singasari.

 

Di atas telah diuraikan bahwa Raja Kertanegara wafat dalam tahun 1291, karena  keraton  Singasari  saat  itu  diserbu  secara  mendadak  oleh  Jayakatwang

( keturunan Raja Kediri ). Dalam serangan itu Raden Wijaya ( menantu Kertanegara ) berhasil meloloskan diri dan lari ke Madura untuk menerima perlindungan dari Bupati Arya Wiraraja.

 

Bupati Madura bernama Arya Wiraraja kemudian menyarankan agar memohon ampun kepada Raja Jayakatwang dan mengabdikan diri kepadanya. Raden Wijaya mengikuti saran itu dan kemudian pergi ke Kediri untuk menghambakan dirinya kepada Jayakatwang. Atas jaminan Arya Wiraraja, dia diterima oleh Jayakatwang, lalu diberikan sebidang tanah di Desa Tarik. Dengan bantuan orang-orang Madura, Raden Wijaya kemudian membangun pemukiman di desa itu, yang kemudian diberi nama Majapahit.

 

Sementara itu, ekspedisi militer Khubilai Khan tiba di pelabuhan Tuban, Jawa Timur. Ekspedisi ini terdiri dari 1.000 buah kapal dengan 20.000 orang prajurit. Tujuannya jelas, yaitu menghukum penghinaan Kertanegara terhadap Khubilai Khan. Akan tetapi, mereka sama sekali tidak tahu bahwa Kertanegara telah dikalahkan oleh Raja Jayakatwang dari Kediri. Hal tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Raden Wijaya, yang bermaksud merebut kembali kekuasaan di Jawa dari Jayakatwang. Dia segara mengirimkan utusan dan meyakinkan pemimpin ekspedisi Cina itu bahwa raja yang hendak mereka hukum itu berada di Kediri.

 

Pasukan gabungan Cina-Raden Wijaya itu kemudian menyerang Kediri. Raja Jayakatwang, yang baru saja menikmati kemenangan atas Singhasari, tidak siap menghadapi serangan tersebut dan terbunuh. Akan tetapi, tidak lama setelah kemenangan atas Jayakatwang, Raden Wijaya berbalik menyerang sekutunya. Meskipun mendapat serangan dari bekas sekutunya itu, pemimpin ekspedisi Cina mengambil keputusan untuk pulang ke negerinya karena menganggap tugas utamanya untuk menghukum Rja Kertanegara telah dilaksanakan secara baik.

 

Tidak lam berselang, pasukan Singhasari yang dikirim ke luar Jawa kembali ke tanah asalnya. Raden Wijaya menyambut mereka dan menjadikannya sebagai pasukannya untuk membangun Kerajaan Majapahit. Raden Wijaya kemudian mengangkat dirinya sebagai raja Majapahit pertama, dengan gelar Sri Kertarajasa Jayawardhana. Dia mempunyai empat orang istri, semuanya anak Kertanegara. Di antara mereka yang terkenal adalah anak mertua yang menjadi permaisuri, yaitu Tribhuwana, serta adik bungsunya yang bernama Gayatri, lebih terkenal dengan Rajapatni. Di samping itu, raja juga memiliki beberapa selir, antara lain Dara Petak dan Dara Jingga, yaitu puteri persembahan dari Raja Melayu.

 

Kertarajasa  wafat   dalam   tahun  1309,  dengan  meninggalkan  tiga  oranganak : dua anak perempuan, yaitu Tribuwanatunggadewi ( Bhre Kahuripan ) dan Rajadewi Maharajasa ( Bhre Daha ), dan seorang anak laki-laki, yaitu Jayanegara. Kertarajasa kemudian dicandikan dalam candi Syiwa di Simping ( Candi Sumberjati di sebelah selatan Blitar ) dan dalam candi Buddha di Antahpura di dalam kota Majapahit.

 

Raja Majapahit berikutnya adalah Jayanegara yang memerintah antara tahun 1309 hingga 1328. Pada awal pemerintahannya, dia harus menghadapi beberapa pemberontakan dari pihak-pihak yang merasa tidak puas terhadapnya, baik secara pribadi maupun karena kebijakan politiknya. Akan tetapi, beberapa sumber menyebutkan bahwa pemberontakan-pemberontakan itu sebenarnya ditujukan kepada seorang tokoh yang bernama Mahapati. Tokoh ini dianggap sebagai biang keladi kekacauan karena sering mempengaruhi Jayanegara untuk mengambil keputusan yang kurang bijaksana.

 

Pemberontakan pertama pecah di bawah pimpinan Ranggalawe. Bupati Tuban itu tidak puas terhadap keputusan raja yang mengangkat Nambi menjadi patih. Padahal, menurut pendapatnya, dia lebih patut menduduki jabatan itu. Akan tetapi pemberontakannya berhasil ditumpas.

 

Pemberontakan kedua terjadi tahun 1311, di bawah pimpinan Sora, seorang pejabat rakryan di Majapahit ; disusul oleh pemberontakan Patih Nambi lima tahun kemudian. Lagi-lagi, kedua pemberontakan ini dapat ditumpas.

 

Pemberontakan yang lebih membahayakan kedudukan raja muncul dari Ra Kuti dan Ra Semi. Kedua orang ini merupakan pejabat Majapahit dengan pangkat dharmaputra yang memberontak akibat difitnah Mahapati. Pasukan mereka sempat menduduki istana kerajaan dan memaksa Jayanegara beserta keluarganya mengungsi ke Desa Bedander. Namun, di bawah pimpinan seorang pemimpin pasukan pengawal Bhayangkari bernama  Gajah Mada., Jayanegara akhirnya berhasil mengalahkan pasukan pemberontak.

 

Pada tahun 1328 Raja Jayanegara tewas dibunuh oleh seorang dharmaputera lainnya bernama Tanca. Kedudukannya kemudian digantikan oleh adik perempuannya, Bhre Kahuripan, yang bergelar Tribuwanatunggadewi Jayawisnuwardhani. Dalam kitab Negara Kertagama, digambarkan adanya beberapa pemberontakan di masa pemerintahan Ratu Tribuwanatunggadewi ini. Namun pemberontakan-pemberontakan itu dapat dipadamkan oleh gajah Mada. Setelah berhasil memadamkan pemberontakan, Gajah Mada bersumpah di hadapan ratu dan para pembesar kerajaan bahwa dia tidak akan amukti palapa sebelum daerah Nusantara berada di bawah kekuasaan Majapahit. Adapun “ palapa “ berarti garam dan rempah-rempah. Dengan demikian, Gajah Mada bermaksud “ mutih “, atau hanya makan nasi tanpa apa-apa, hingga cita-citanya berhasil.

 

B.    MASA KEJAYAAN KERAJAAN MAJAPAHIT

 

Penguasa terbesar Majapahit adalah Hayam Wuruk. Ketika dia dinobatkan sebagai raja dengan gelar Sri Rajasanegara pada tahun 1350, dia mengangkat Gajah Mada sebagai patih Hamangkubhumi. Di bawah pemerintahan Hayam Wuruk dan Gajah Mada, Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya. Sumpah Gajah mada dapat terlaksana : seluruh kepulauan Indonesia hingga Semenanjung Malaya mengakui kekuasaan Majapahit.

 

Wilayah Kerajaan Majapahit yang luas dan subur, menghasilkan banyak beras yang dapat diperdagangkan. Di samping itu terdapat hasil-hasil yang sangat dibutuhkan   dalam   aktivitas   perdagangan  seperti  kelapa,  lada,  pala,  cengkeh

( dihasilkan di Indonesia bagian timur ) dan sebagainya. Hasil itu merupakan modal utama bagi Kerajaan Majapahit untuk terjun ke dunia perdagangan.

 

Selain sebagai negara produsen, Kerajaan Majapahit ( karena kedudukan politiknya yang kuat ) juga bertindak sebagai pedagang perantara, yaitu membawa hasil bumi dari satu daerah ke daerah yang lain untuk diperdagangkan dengan memperoleh keuntungan. Hasil-hasil dari Kerajaan Majapahit yang dapat diperdagangkan dengan dunia luar antara lain : garam, baras, lada, gading, timah, emas, intan, ikan, cengkeh, pala, kapas, kayu, cendana, dan lain-lainnya.

 

Dengan demikian nyatalah bahwa karena Kerajaan Majapahit memegang pimpinan dalam bidang perdagangan maka kehidupan ekonomi rakyatnya dapat berjalan dengan teratur pula. Keberhasilan Kerajaan Majapahit dalam bidang politik dan kemiliteran membawa keharumannama Majapahit, yaitu keadaan masyarakat yang teratur. Pancaran dari keadaan teratur itu tampak dalam bidang kebudayaan, sebab hanya masyarakat yang keadaannya teratur pada umumnya mampu menghasilkan karya-karya budaya yang bermutu.

 

Bukti-bukti perkembangan kebudayaan di Kerajaan Majapahit dapat diketahui melalui peninggalan-peninggalan seperti :

 

a. Candi

     Antara  lain  Candi  Panataran  ( Blitar ),  Candi  Tegalwangi  dan  Surawana

( Pare, Kediri ), Candi Sawentar ( Blitar ), Candi Sumberjati ( Blitar ), Candi Tikus ( Trowulan ), dan bangunan-bangunan purba lainnya, terutama yang terdapat didaerah Trowulan.

 

b. Kesusastraan

Hasil sastra zaman Majapahit dapat kita bedakan menjadi dua yaitu sastra zaman Majapahit awal dan sastra zaman Majapahit akhir.

 

Kitab Negarakertagama, yang ditulis pada masa pemerintahan Hayam Wuruk-Gajah Mada, memberikan gambaran mengenai corak dan pengaruh Kerajaan Majapahit pada masa itu. Menurut kitab tersebut, Majapahit merupakan sebuah kerajaan agraris sekaligus perdagangan. Negara ini memiliki angkatan laut yang besar dan kuat, dan pada tahun 1377 mengirim suatu ekspedisi untuk menghukum raja Palembang di Sumatera. Majapahit juga mempunyai hubungan dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, dan Vietnam serta mengirim duta-dutanya ke Cina.

 

Satu-satunya kebijakan Gajah Mada yang dinilai sebagai suatu kegagalan adalah  upayanya  ‘ menjebak ‘  Kerajaan  Pakuan  Pajajaran  dalam  kawin-politik

( Peristiwa Bubat )yang berakhir dengan pertumpahan darah di Bubat. Pada saat itu, raja Pajajaran yang datang untuk menerima lamaran dari Majapahit untuk menikahkan puterinya, Citrasemi Dyah Pitaloka, dengan Hayam Wuruk marah karena ternyata Mjapahit meminta puterinya sebagai upeti. Bagi raja pajajaran, itu artinya menyamakannya dengan kerajaan bawahan Majapahit. Akhirnya pecah pertempuran, di mana raja Pajajaran dan puterinya terbunuh. Dengan peristiwa Bubat, Pajajaran menjadi satu-satunya kerajaan di kepulauan Indonesia yang tidak tunduk kepada Majapahit.

 

C.     SEBAB-SEBAB KEHANCURAN  KERAJAAN MAJAPAHIT

 

Kematian Gajah Mada pada tahun 1364 menjadi titik tolak kemunduran Majapahit. Keadaan makin memburuk ketika sebelum wafat pada tahun 1389 Hayam Wuruk mengangkat menantunya, yaitu Wikramawardhana ( suami dari putri mahkota Kusumawardhani ), sebagai penggantinya. Kebijakan itu ditentang oleh Bhre Wirabhumi, seorang putera Hayam Wuruk dari selir, yang pada saat itu berkuasa di Blambangan.

 

 

Pertikaian antara Wikramawardhana dengan Bhre Wirabumi akhirnya menyebabkan pecahnya Perang Paregreg,  yang berlangsung antara tahun 1401 hingga 1406. Meskipun Wikramawardhana berhasil menglahkan Bhre Wirabumi, namun dia tidak berhasil memulihkan kejayaan Majapahit. Sebaliknya, kedudukan Majapahit semakin merosot. Kelemahan ini kemudian dimanfaatkan oleh sejumlah negara tetangga seperti Cina, untuk menanamkan pengaruhnya di beberapa wilayah bawahan Majapahit, namun pada awal abad ke-15 Malaka meminta perlindungan dari Kaisar Cina. Demikian pula beberapa wilayah di Kalimantan Barat, yang sejak tahun 1405 sudah berada di bawah pengaruh Cina tanpa ada tindakan apa-apa dari Majapahit.

 

Majapahit sendiri bahkan sempat tidak mempunyai raja, yaitu antara tahun 1453-1456. Barulah pada tahun 1456 Bhre Wengker ( Girisawardhana ) dinobatkan menjadi raja Majapahit. Akan tetapi, baik dia maupun para penggantinya tetap tidak dapat memulihkan kebesaran Majapahit. Sebaliknya, kerajaan itu tetap dilanda peperangan dan perebutan kekuasaan. Pada tahun 1478, Raja Kertabhumi digulingkan oleh Ranawijaya, yang kemudian menggantikannya dengan gelar Bhatara Prabu Girindrawardhana.

 

Sejarawan Belanda Krom menganggap kekalahan Kertabhumi sebagai runtuhnya Kerajaan Majapahit. Hal ini sesuai dengan isi Serat Kanda, yang mebutkan kekalahan Kertabhumi sebagai Sirna Ilang Kertaningbhumi. Artinya, hilangnya sinar kemegahan dari muka bumi. Meskipun pernyataan itu sangat berlebihan, pada kenyataannya, sejak runtuhnya Majapahit memang tidak pernah muncul lagi sebuah kerajaan di kepulauan Indonesia yang mampu menandingi kebesarannya. Kalimat itu sekaligus merupakan candrasangkala, yang menunjukkan angka tahun Jawa, yaitu tahun 1400 Caka.

 

Akan tetapi dari sumber Portugis disebutkan bahwa dalam tahun 1522 Kerajaan Majapahit masih berdiri. Dengan kata lain, Bhatara Prabu Girindrawardhana masih memerintah kerajaan itu dengan nama Majapahit. Berdasarkan sumber Portugis pula diduga Majapahit runtuh sekitar tahun 1527 M. Kedudukannya di Jawa kemudian digantikan oleh Demak, yang sebelumnya merupakan salah satu kerajaan bawahan Majapahit yang telah menjadi pusat Islam di Jawa.

 

Sesudah lenyapnya Kerajaan Majapahit, kerajaan hindu yang masih bertahan di Jawa adalah Pakuan Pajajaran di bagian barat dan Blambangan di sebelah timur. Pajajaran sendiri dianggap runtuh pada tahun 1579, setelah mendapat serangan dari Kerajaan Banten. Sementara itu Blambangan ditaklukkan pada tahun 1639 oleh Sultan Agung dari kerajaan Islam Mataram. Setelah kedua kerajaan itu hilang, maka kerajaan-kerajaan hindu di kepulauan Indonesia yang harus hidup sampai masa Hindia Belanda, hanya terdapat di wilayah Bali dan Nusa Tenggara Barat.

 

Akan tetapi, runtuhnya pusat-pusat kerajaan Hindu itu tidak membuat tradisi Hindu lenyap dalam masyarakat di Jawa, masih ada masyarakat yang mempertahankan tradisi Hindu dalam kehidupannya. Contohnya adalah masyarakat di Pegunungan Tengger, yang mengaku sebagai pewaris tradisi Pajajaran. Selain itu, struktur kenegaraan Hindu sendiri masih tetap bertahan di Bali  dan  Lombok,  di  mana  kerajaan-kerajaan  Hindu  hidup  hingga  awal  abad ke-20, ketika mereka ditelan oleh negara kolonial Hindia Belanda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s