Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. Orang buta itu berbahak berkata “Buat apa saya bawa pelita ??? kan sama aja buat saya !!! Saya bisa pulang koq”. Dengan lembut sahabatnya menjawab, “ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu”. Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut.

 

Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya dia mengomel, “hei, kamu kan punya mata, beri jalan buat orang buta donk!!!”, Tanpa berbalas sapa, merekapun saling berlalu. Lebih lanjut seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta bertamabah marah,”apa kamu buta ? tidak bisa lihat ya ? aku bawa pelita supaya kamu bisa lihat !” pejalan itu menukas, “kamu yang buta ! apa kamu tidak lihat pelitamu sudah padam !” Si buta tertegun……… Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, “Oh, maaf, sayalah yang ‘buta’ saya tidak melihat bahwa anda adalah orang buta.” Si buta tersipu menjawab, “tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya.” Dengan tulis si penabrakmembantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Merekapun melanjutkan perjalanan masing-masing.

 

Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta tadi. Kali ini si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, “maaf, apakah pelita saya padam ?” penabraknya menjawab, “lho saya justru mau menanya hal yang sama.” Senyap sejenak……..secara berbarengan mereka bertanya, “apakah anda orang buta ?” Seacara serempak pun menjawab, ‘ya…..’ sembari meledak tertawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan. Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu tanpa mengetahui bahwa meraka adalah orang buta. Timbul pikiran dalam benak orang ini, “rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka.

 

Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan).

Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan pulang ia belajar menjadi lebih bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaanya dan dengan belas kasihan dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf. Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umunya yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang mereka memilih untuk “membuta” walaupun mereka bisa melihat.

 

Penabrak kedua, mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu. Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit untuk menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.

 

Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan. Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing ???? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang atau bahkan nyaris padam ???? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita. Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan : Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi”. SEMOGA INI DAPAT MENJADI PELAJARAN DALAM SETIAP HEMBUSAN NAFAS KITA  :-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s