BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

 

Kabupaten Sidoarjo, merupakan sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibukotanya adalah Sidoarjo. Kabupaten ini berbatasan dengan Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik di utara, Selat Madura di timur, Kabupaten Pasuruan di selatan, serta Kabupaten Mojokerto di barat. Sidoarjo dikenal sebagai penyangga utama Kota Surabaya, dan termasuk kawasan Gerbangkertosusila.

Diakui atau tidak, masih banyak orang yang belum mengetahui secara detail bagamanakah kabupaten Sidoarjo itu, bagaimanakah sejarahnya, geografinya, pembagian administratif, perekonomian, siapa sajakah orang yang pernah menjadi pemimpinnya, transportasi apa sajakah yang ada, bagaimana olah raganya serta apa sajakah makanan khas yang ada di Sidoarjo. Untuk itulah makalah ini akan mengupas tentang kabupaten Sidoarjo.

 

B. Rumusan Masalah

 

Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, maka rumusan permasalahan yang diajukan dalam proposal ini adalah :

Apakah dengan mengetahui keadaan kabupaten Sidoarjo, kita dapat menggali dan mengembangkan segala potensi yang ada?

C. Ruang Lingkup dan Pembatasan Masalah

 

Kabupaten Sidoarjo dan keadaannya.

D. Tujuan

 

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar kita lebih mengetahui tentang kabupaten Sidoarjo dan keadaannya.

E. Manfaat

 

Manfaat dari penulisan makalah ini adalah dapat menanbah wawasan kita tentang kabupaten Sidoarjo dan keadaannya serta dapat mengembangkan potensi yang ada dengan lebih baik.

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

1. KEADAAN KABUPATEN SIDOARJO

A. Sejarah Sidoarjo

Sidoarjo dulu dikenal sebagai pusat Kerajaan Janggala. Pada masa kolonialisme Hindia Belanda, daerah Sidoarjo bernama Sidokare, yang merupakan bagian dari Kabupaten Surabaya. Daerah Sidokare dipimpin oleh seorang patih bernama R. Ng. Djojohardjo, bertempat tinggal di kampung Pucang Anom yang dibantu oleh seorang wedana yaitu Bagus Ranuwiryo yang berdiam di kampung Pangabahan. Pada 1859, berdasarkan Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 9/1859 tanggal 31 Januari 1859 Staatsblad No. 6, daerah Kabupaten Surabaya dibagi menjadi dua bagian yaitu Kabupaten Surabaya dan Kabupaten Sidokari. Sidokare dipimpin R. Notopuro (kemudian bergelar R.T.P Tjokronegoro) yang berasal dari Kasepuhan. Ia adalah putra dari R.A.P. Tjokronegoro, Bupati Surabaya. Pada tanggal 28 Mei 1859, nama Kabupaten Sidokare, yang memiliki konotasi kurang bagus diubah menjadi Kabupaten Sidoarjo.

Setelah R. Notopuro wafat tahun 1862, maka kakak almarhum 1863 diangkat sebagai bupati, yaitu Bupati R.T.A.A Tjokronegoro II yang merupakan pindahan dari Lamongan. Pada tahun 1883 Bupati Tjokronegoro mendapat pensiun, sebagai gantinya diangkat R.P. Sumodiredjo pindahan dari Tulungagung tetapi hanya 3 bulan karena wafat pada tahun itu juga, dan R.A.A.T. Tjondronegoro I diangkat sebagai gantinya.

Di masa Pedudukan Jepang (8 Maret 1942 – 15 Agustus 1945), daerah delta Sungai Brantas termasuk Sidoarjo juga berada di bawah kekuasaan Pemerintahan Militer Jepang (yaitu oleh Kaigun, tentara Laut Jepang). Pada tanggal 15 Agustus 1945, Jepang menyerah pada Sekutu. Permulaan bulan Maret 1946 Belanda mulai aktif dalam usaha-usahanya untuk menduduki kembali daerah ini. Ketika Belanda menduduki Gedangan, pemerintah Indonesia memindahkan pusat pemerintahan Sidoarjo ke Porong. Daerah Dungus (Kecamatan Sukodono) menjadi daerah rebutan dengan Belanda. Tanggal 24 Desember 1946, Belanda mulai menyerang kota Sidoarjo dengan serangan dari jurusan Tulangan. Sidoarjo jatuh ke tangan Belanda hari itu juga. Pusat pemerintahan Sidoarjo lalu dipindahkan lagi ke daerah Jombang.

Pemerintahan pendudukan Belanda (dikenal dengan nama Recomba) berusaha membentuk kembali pemerintahan seperti di masa kolonial dulu. Pada November 1948, dibentuklah Negara Jawa Timur salah satu negara bagian dalam Republik Indonesia Serikat. Sidoarjo berada di bawah pemerintahan Recomba hingga tahun 1949. Tanggal 27 Desember 1949, sebagai hasil kesepakatan Konferensi Meja Bundar, Belanda menyerahkan kembali Negara Jawa Timur kepada Republik Indonesia, sehingga daerah delta Brantas dengan sendirinya menjadi daerah Republik Indonesia.

 

B. Geografi

Wilayah Kabupaten Sidoarjo berada di dataran rendah. Sidoarjo dikenal dengan sebutan Kota Delta, karena berada di antara dua sungai besar pecahan Kali Brantas, yakni Kali Mas dan Kali Porong. Kota Sidoarjo berada di selatan Surabaya, dan secara geografis kedua kota ini seolah-olah menyatu.

 

C. Pembagian Administratif

Wilayah Kabupaten Sidoarjo berada di dataran rendah. Sidoarjo dikenal dengan sebutan Kota Delta, karena berada di antara dua sungai besar pecahan Kali Brantas, yakni Kali Mas dan Kali Porong. Kota Sidoarjo berada di selatan Surabaya, dan secara geografis kedua kota ini seolah-olah menyatu.

 

D. Perekonomian

Perikanan, industri dan jasa merupakan sektor perekonomian utama Sidoarjo. Selat Madura di sebelah Timur merupakan daerah penghasil perikanan, diantaranya ikan, udang, dan kepiting. Logo Kabupaten menunjukkan bahwa Udang dan Bandeng merupakan komoditi perikanan yang utama kota ini. Sidoarjo dikenal pula dengan sebutan “Kota Petis“. Oleh-oleh makanan khas Sidoarjo adalah Bandeng Asap dan Kerupuk Udang.

Sektor industri di Sidoarjo berkembang cukup pesat karena lokasi yang berdekatan dengan pusat bisnis kawasan Indonesia Timur (Surabaya), dekat dengan Pelabuhan Laut Tanjung Perak maupun Bandar Udara Juanda, memiliki sumber daya manusia yang produktif serta kondisi sosial politik dan keamanan yang relatif stabil menarik minat investor untuk menanamkan modalnya di Sidoarjo. Sektor industri kecil juga berkembang cukup baik, diantaranya sentra industri kerajinan tas dan koper di Tanggulangin, sentra industri sandal dan sepatu di WedoroWaru dan TebelGedangan, sentra industri kerupuk di TelasihTulangan.

 

E. Daftar Bupati

Berikut ini adalah daftar bupati yang pernah menjabat di Kabupaten Sidoarjo sejak masa awal kemerdekaan Indonesia:

 

1. R.A.A. Soejadi (1933-1949)

2. R. Suriadi Kertosuprojo (1950-1958)

3. H.A. Chudori Amir (1958-1959)

4. R.H. Samadikoen (1959-1964)

5. Kol.Pol. H.R. Soedarsono (1965-1975)

6. Kol.Pol. H. Soewandi (1975-1985)

7. Kol.Art. Soegondo (1985-1990)

8. Kol.Inf. Edhi Sanyoto (1990-1995)

9. Kol.Inf. H. Soedjito (1995-1999)

10. Drs. Win Hendrarso, MSi (1999-2010)

11. H. Saiful Ilah, S.H.,M.Hum (2010-sekarang)

 

F. Transportasi

Bandara Internasional Juanda dan terminal bus Purabaya yang dianggap sebagai “milik” Surabaya, berada di wilayah kabupaten ini. Terminal Purabaya merupakan gerbang utama Surabaya dari arah selatan, dan salah satu terminal bus terbesar di Asia Tenggara. Kereta komuter Surabaya GubengSidoarjoPorong menghubungkan kawasan Sidoarjo dengan Surabaya.

 

G. Olahraga

Gelora Delta terdapat di Jalan Pahlawan Kota Sidoarjo, dimana pernah digunakan untuk pembukaan PON XV Jawa Timur 2002. Dimana stadion ini adalah markas dari klub sepak bola Deltras Sidoarjo.

 

H. Makanan Kuliner

1. Kupang Lontong Sidoarjo + Sate kerang

2. Bandeng presto Sidoarjo

3. Kerupuk udang Sidoarjo

 

 

2. POTENSI YANG DAPAT DIGALI DAN DIKEMBANGKAN

Melihat dari keadaan kabupaten Sidoarjo yang demikian, masih banyak potensi yang bisa digali dan dikembang dengan lebih baik dalam beberapa sektor antara lain :

a. Sektor Perekonomian

Sektor perekonomian di Sidoarjo masih banyak yang dapat dikembangkan secara lebih baik, yang dapat menambah PAD kebupaten Sidoarjo. Perusahaah yang banyak terdapat di Sidoarjo menambah kontribusi pemasukan PAD dari sektor perpajakan. Ditambah lagi sebagai media untuk mengurangi tingkat pengangguran yang semakin banyak. Selain itu sektor pertanian masih banyak yang dapat dikembangkan dengan ditopang oleh geografis sebagai dataran rendah yang memungkinkan tanah pertanian yang banyak pula yang diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber pangan bagi Sidoarjo. Home industri juga memegang andil yang tidak sedikit, terlebih pada saat terjadi krisis meneter, industri kecil/ home industri masih dapat bertahan dan memberikan kontribusi pemasukan PAD Sidoarjo, seperti Industri Tas Tanggulangin, Batik Jetis/ Tulangan dan Kedung Cangkring, Sayangan di Kecamatan Candi, pembuatan Tempe di Sepande Kecamatan Candi, Kupang di desa Balong Dowo Kecamatan Candi, industri sepatu di Wedoro kecamatan Waru dan masih banyak lagi yang lainnya yang dapat dikembang menjadi industri yang mandiri yang dapat memajukan kabupaten Sidoarjo selain yang sudah ada saat ini.

 

b. Sektor Pendidikan

Banyaknya sekolah yang ada di Sidoarjo dapat menjadi aset Sidoarjo dibidang pendidikan, disamping itu prestasi-prestasi yang pernah dirai oleh siswa-siswa Sidoarjo diajang Nasional dan Internasional (misal : siswa SMAN 1 Sidoarjo yang menjuarai lomba tingkat Internasional dengan menciptakan senjata listrik/ senapan listrik di Bali pada tahun 2010 lalu) yang ikut menorehkan nama Sidoarjo di ajang tersebut. Ini semua harus dikembangkan dengan lebih baik lagi terlebih sekarang dimana wakil bupati Sidoarjo bapak Sucipto adalah mantan ketua dinas Pendidikan kabupaten Sidoarjo yang diharapkan dapat membantu pengembangan Sidoarjo lewat jalur pendidikan.

 

c. Sektor Olahraga

Dengan memiliki stadion bertaraf Nasional diharapkan Sidoarjo dapat melahirkan atlit-atlit berbakat di tingkat Nasional bahkan di tingkat Internasional di berbagai cabang olah raga dengan mendulang atlit-atlit lokal yang dibina dengan sungguh-sungguh untuk dapat dijadikan atlit-atlit yang tangguh pada event-event Nasional bahkan Internasional.

 

d. Sektor Pariwisata

Kabupaten Sidoarjo memang tidak banyak memiliki obyek wisata alam sebanyak kabupaten Pasuruan dan kabupaten Malang, namun masih ada obyek-obyek wisata lainnya yang dapat dikembangkan menjadi obyek wisata yang bisa mendongkrak wisata di Sidoarjo. Antara lain :

 

1. Obyek wisata pendidikan yang ada di kebun bibit puspa Lebo yang selain sebagai peningkatan di bidang pertanian dan perkebunan, juga dapat dijadikan sarana rekreasi dan pendidikan bagi siswa-siswa sekolah pada mata pelajaran tertentu.

Juga banyaknya candi-candi peninggalan dari kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Sidoarjo dapat dijadikan sebagai sarana wisata pendidikan sejarah apabila dikelolah dengan lebih baik lagi.

2. Obyek wisata religi seperti yang terdapat di dusun Kepetingan/ Ketingan desa Gebang kecamatan Sidoarjo Kota yang dipercaya sebagai makam Ibu dari sunan Giri yaitu Dewi Sekar Dadu putri dari Prabu Menak Sembuyu yang meninggal akibat ingin mengikuti anaknya yang dibuang oleh kakeknya di selat Bali. Yang apabila dikelola dengan lebihbaik lagi dapat menjadi sarana wisata religi dengan menyediakan sarana angkutan yang memadai serta promosi yang cukup pula.

3. Selain itu obyek wisata alternatif seperti kolam pancing-kolam pancing yang banyak terdapat di kecamatan Sedati masih bisa dikembangkan dengan lebih baik dengan promosi yang cukup serta sarana yang memadai ditambah dengan sarana-sarana lain yang menunjang.


 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

Kabupaten Sidoarjo, merupakan sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibukotanya adalah Sidoarjo. Kabupaten ini berbatasan dengan Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik di utara, Selat Madura di timur, Kabupaten Pasuruan di selatan, serta Kabupaten Mojokerto di barat. Sidoarjo dikenal sebagai penyangga utama Kota Surabaya, dan termasuk kawasan Gerbangkertosusila.

Melihat dari keadaan kabupaten Sidoarjo yang demikian, masih banyak potensi yang bisa digali dan dikembang dengan lebih baik dalam beberapa sektor antara lain :

1. Perekonomian

2. Pendidikan

3. Olah raga dan

4. Pariwisata

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Sejarah Kabupaten Sidoarjo, Situs Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, copyright © Bagian Telematika Kabupaten Sidoarjo. Diakses 20 Oktober 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s