ILMU-ILMU BANTU SEJARAH

A.   Apa yang dimaksud dengan ilmu bantu ?

Untuk mempelajari sejarah dengan sungguh-sungguh sesuai dengan ketentuan yang dituntut oleh dunia ilmu bukankah pekerjaan mudah, dan sederhana seperti menghafalkannya tatkala masih duduk di bangku sekolah dasar atau sekolah menengah. Untuk membaca sumber sejarah, apalagi yang memakai bermacam aksara, Pallawa Jawa Kuna, Batak Kuna, jawa Tengahan, Jawa Baru, Arab Pegon, Bali, Bugis, Cina dan lain-lain dengan bahasa yang berbeda-beda pula memerlukan piranti serta keahlian tersendiri. Belum lagi yang ada hubungannya dengan isi atau kandungan sumber sejarah yang berkaitan dengan berbagai segi kehidupan seperti masalah politik, ekonomi, sosial, budaya, ilmu pengetahuan, agama, birokrasi, pemerintahan, ataupun tokoh-tokoh pemegang peran. Sejarawan tidak dapat bersitegang untuk bekerja sendirian, dan hanya berkubang dalam ilmu sejarah semata. Sejarawan tidak dapat demikian saja mengabaikan hubungan dan bantuan dari ilmu-ilmu lainnya yang koheren dengan pokok studi atau pokok kajiannya. Dalam hal ini sejarawan tidak bekerja sendirian, dan sejumlah ilmu dapat memberikan bantuan atau bahkan ada yang sepenuhnya mengabdikan diri bagi kepentingan ilmu sejarah (seperti arkeologi), lazim disebut dengan istilah ilmu banty sejarah (auxillary discipline).

 

Mengenai ilmu apa saja yang termasuk sebagai ilmu bantu sejarah, di antara para ahli terdapat perbedaan pandangan.

LOUIS GOTTSCHALK dalam mengerti sejarah terjemahan Nugroho Notosusanto (1981), menyebutkan filologi, epigrafi, palaeografi, hiraldik genealogi, brafiografi, dan kronologi sebagai ilmu bantu sejarah.

SIDI GAZALBA dalam pengantar Sejarah Sebagai Ilmu menyatakan bahwa ilmu purbakala, ilmu piagam, filologi, palaeografi, kronologi, senumismatik, dan genealogi menjadi ilmu bantu sejarah. Gazalba selanjutnya menambahkan bahwa ilmu sosial seperti etnografi, ekonomi, dan ilmu sosial lainnya juga dapat membantu sejarawan dalam tugasnya menyusun sejarah.

GILBERT J. GARRAGHAN, S.J. dalam A Guide to Historical Method berpendapat bahwa auxallary sciences (ilmu bantu sejarah) terdori dari : filsafat, biliografi, antropologi, linguistik, arkeologi, epigrafi, numismatik, dan genealogi.

HERU SOEKRADI K. Dalam dasar-dasar Metodologi Sejarah menempatkan filologi, arkeologi, numismatik, kronologi, epigrafi, dan genealogi sebagai “ilmu bantu sejarah”, atau ancillary diciplin. Ilmu-ilmu itu menurut Heru Soekradi sepenuhnya mengabdikan diri untuk sejarah. Adapun yang termasuk sebagai ilmu ilmu bantu sejarah ialah ilmu-ilmu sosial (auxillary disciplin)

 

Menurut hemat penulis semua ilmu-ilmu yang dikemukakan oleh para ahli di atas tidak secara total menyediakan dirinya sebagai kepentingan ilmu sejarah, melainkan dalam batas-batas tertentu yang ada kaitannya dengan permasalahan sejarah, khususnya permasalahan sejarah yang telah dipersoalkan atau aktual dihadapi. Arkeologi bagian tidak terpisahkan dari sejarah kebudayaan. Sehubungan dengan hal di atas sebenarnya tidaklah relevan untuk membrikan batas secara hitam putih atau tegas terhadap mana yang dianggap sebagai ilmu dasar sebagian lagi sebagai ilmu bantu sejarah.

 

Yang perlu mendapat perhatian adalah penguasaan dalam batas-batas tertentu terhadap konsep-konsep ilmu-ilmu bantu akan memberikan prespektik atau sudut pandang (visi) tertentu dari sejarawan terhadap pokok studi yang dihadapi. Yang dimaksud dalam konteks ini ialah derajad subyektivitas atau pandangan sejarawan akan ikut terpengaruhi oleh penguasaan di atas, subyektivitas itu berdasarkan dimensi tertentu dari ilmu bantu yang digunakan untuk memandang, mendekati pokok studi atau kajian. Pandangan seorang ahli ekonomi mungkin berbeda dengan pandangan mereka yang ahli sosiologi terhadap perang Diponegoro. Berbeda pila mereka yang ahli agama. Subyektivitas yang dihasilkan dikarenakan mereka melihat peristiwa sejarah sebagai fenomena sosial dari sudut keahlian yang berbeda. Subyektivtas yang demikian dalam studi sejarah analitis nampaknya sulit untuk dihindarkan. Subyektivitas yang disebabakan oleh faktor-faktor dimensional disebut subyektivitas dimensional. Bila ditinjau sejarawan menggunakan tinjauan atau pendekatan bersifat multi dimensi dengan sendirinya langkah ini akan mengurangi bahkan dapat menghapus subyektivitas dimensional, yang memandang suatu peristiwa hanya dari dimensi ilmu tertentu. Obyektivitas hasil tinjauan multi dimensi suadah barang tentu memiliki derajad lebih tinggi dibandingkan dengan obyektivitas yang dicapai dengan cara-cara terdahulu.

 

B.   Arkeologi atau Ilmu Purbakala

Peninggalan purbakala atau peninggalan arkeologi merupakan warisan sejarah dalam bentuk visual. Warisan meliputi peninggalan dari zaman prasejarah (nirleka) dan zaman sejarah, yang terdapat baik di atas permukaan tanah  maupun terpendam di dalamnya. Benda-benda itu dikeluarkan lewat penggalian (excavasi).

 

Peninggalan dari periode pra sejarah yang terpenting diantaranya ialah, kapak-kapak, pra sejarah dalam berbagai perkembangannya dari chopper, peble, persegi, dan lonjong dapat memberikan pentunjuk tingkat kehidupan masyarakat dan perekonomiannya pada masa-masa paleolotikum (zaman batu tua), mesolitikum (zaman batu tengah), dan neolitikum (zaman batu muda).

 

Berdasarkan peninggalan seperti menhir, dolmen, sarcofagus, batu kubur, pundek berundak-undak, dapat pula diperkirakan bagaimana tingkatan kehidupan kerohanian dan kepercayannya. Dari zaman sejarah (Indonesia) peninggalan purbakala itu diantaranya meliputu peninggalan bersifat keagamaan seperti candi, stupa, patung, wihara, patirtan, gua-gua, pura, masjid, serta makam-makam. Peninggalan berupa alat-alat kehidupan sehari-hari seperti mata uang kuna, cermin, lampu (blencong), senjata, pintu-pintu gerbang, situs istana, sumur dan lain-lain. Dalam hal ini candi perlu mendapat perhatian khusus.

 

Peninggalan purbakala dalam bentuk candi merekam banyak data-data sejarah pada zamannya. Yang jelas ialah sebuh candi memberikan petunjuk tentang agama yang dikaitkan dengan pendiriannya, atau jenis agama tertentu yang dianut oleh dinasti aatu masyarakat pada periode tertentu. Candi yang melukiskan perkembangan bentuk arsitektur. Khusunya arsitektur bangunan suci dari zaman ke zaman. Relief candi dalam batas tertentu dapat dikatakan sebagai potret kehidupan sosial budaya pada zamannya. Potret kehidupan sosial budaya yang melingkungi saat pendiriannya. Misalkan saja pada relief pada candi Jago telah terlukis bagaimana tingkah laku wanita tatkala melihat pria yang sangat tampan : Arjuna. Jenis kesenian tertentu seperti tari gambyong (tayub) tampaknya telah ada pada masa pendirian candi Borobudur. Tari kuda lumping terlukis pada suatu bidang pada candi Prambanan. Bentuk kehidupan sosial lainnya seperti pasar yang terlukis pada candi Panataran tidak jauh dari gsmbaran pasar-pasar tradisional yang masih tersisa saat ini. Pada relief yang terlukis pada candi Sukun ternyata teknologi pandai besi (Jawa, besalen) yang tidak jauh berbeda denngan besalen pada masa kini yang menghadapi kepunahan. Dari relief yang tertera pada patirtan de belakang komplek candi Panataran dan patung dwarapala pada candi induk jelaslah bahwa fabel, seperti cerita serial kancil telah hidup dan dikenal luas di kalangan masyarakat pada masa itu. Tidak mustahil cerita yang sangat termasyhur di kalangan rakyat itu mempunyai fungsi edukatif. Demikian pila dengan bangunan joglo atau cungkup yang kemudian lazim digunakan pada komplek-komplek makam Islam telah terlukis pada relief candi Tigawangi dari masa kerajaan Majapahit. Tidak jarang terdapat hubungan erat antara epigrafi dan arkeologi. Hal ini terbukti dengan berbagai prasasti atau sumber tertulis tertentu seperti Pararaton Negarakertagama memberikan petunjuk atau bahkan berhubungan dengan pendiriannya. Cotoh lain misalnya : prasasti Canggal (732) dengan candi Gunung Wukir, prasasti Dinaya (760) dengan candi Bandut, prasasti Kalasan (778) dengan candi Kalasan, prasasti Karangtengah (842) dengan candi Borobudur. Dalam teks Pararaton juga disebut candi-candi di Jajago (Tumpang), candi Kidal. Candi Singosari, candi Jawi, candi Rimbi dan lain-lain.

 

Dari sudut perkembangan kebudayaan percandian Jawa Tengah mencermeninkan gaya bangunan tatkala pengaruh kebudayaan dan agama Hindu sedemikian kuat dalam periode sejarah Indonesia. Di  pihak lain bangunan percandian di Jawa Timur memberikan petunjuk makin menonjolnya unsur kebudayaan Indonesia asli (Javanisasi), sementara kebudayaan dan agama Hindu makin merosot. Tudak jarang relief suatu candi atau peninggalan purbakala juga melukiskan lingkungan sekitarnya khususnya lingkungan fauna, lingkungan alam seperti pohon pandan, siwalan (pada komplek Sendang Suwur), dan relief gunung atau perbukitan terlukis hampir disemua obyek kepurbakalaan Islam di pantai utara Jawa. Peninggalan purbakala sangat penting artinya bagi rekronstruksi sejarah kebudayaan, di samping juga untuk mengisi celah-celah yang tidak terekam oleh sumber-sumber tertulis.

 

C.   Epigrafi

Epigrafi berasal dari kata up (di atas), graphien (menulis,tulisan). Epigrafi adalah ilmu yang menyelidiki sejarah berdasarkan bahan-bahan tertulis, yaitu tilisan kuno. Karena itu ada yang menyamakan epigrafi dengan paleografi (ilmu tentang tulisan kuno). Tidak mengherankan bila epigrafi sering dihubungkan dengan tulisan-tulisan pada prasasti. Memnag penelitian terhadap prasasti sangat penting bagi studi sejarah Indonesia kuno, sejak zamannya Krom himgga sekarang tidak kurang dari 50% sebagai hasil rekonstruksi sejarah Indonesia kuna berdasarkan penelitian prasasti. Namun juga tidak semua prasasti dapat dimanfaatkan untuk keperluan itu.

 

Dibalik itu juga perlu diketahui bahwa betapapun urgensinya prasasti sebagai sejarah, tidak berarti prasasti merekam semua peristiwa pada zamannya. Prasasti hanya merekam beberapa aspek tertentu seperti soal-soal polotik, sosial, dan agama. Kehidupan masyarakat pada umunya seperti ekonomi, seni, budaya, dan lain-lain jarang atau sedikit sekali disinggung dalam prasasti. Karena bila ingin mengetahui gambaran sejarah secara menyeluruh masih diperlukan sumber lain seperti karya-karya sastra, peninggalan purbakala, berita-berita asing dan lain-lain. Pitono dalam hal ini menyarankan agar dapat mencapai pengetahuan sejarah yang bulat dan obyektif metode yang terbaik dalam metode komparatif. Sejarah lainnya Sarono Kartodirdjo, pelopor sejarawan sosial Indonesia menyarankan agar sejarawan dalam berusaha memperoleh pemahaman sejarah secara utuh menerapkan pendekatan yang dinamakannya pendekatan multi dimensional (multi dimention approach), atau social scientific approach. Yang dimaksud ini adalah untuk mencapai kebenaran sejarah yang obyektif, serta menyeluruh sejarawan harus mengalnalisanya dengan berbagai pendekatan ilmu sosial atau dimensi ilmu sosial secara terkait.

 

Tujuan utama epigrafi adalah pembacaan tulisan kuna tanpa kesalahan. Hai ini sangat ditekankan karena tulisan-tulisan kuna itu memang sukar dibaca oleh nernagai sebab. Sebab-sebab itu antara lain : (1) huruf-hurufnya rusak karena bahan prasastinya aus akibat usia ataupun karena tangan-tngan usil, (2) tiap-tiap periode bentuk hurufnya mengalami perkembangan, (3) huruf itu sendiri memang sudah tidak terpakai lagi. Lain pada itu epigrafi juga bertugas menentukan usia , asal tulisan, serta menentukan kesalahn-kesalahan yang menyelinap dalam teks kemudian membersihkannya. Belum lagi bila prasasti itu sebagai prasasti turunan (tinulad) yang tidak jarang menimbulkan kesulitan karena penyalinannya tidak cermat baik dalam aksara maupun dalam bahasa. Ilmuwan yang pertama kali mengangkat epigrafi sebagai ilmu bantu sejarah ialah Ludwing Troube. Di Eropa tulisan epigrafi memusatkan perhatiannya pada naskah atau teks-teks manuskrip Yunani dan pagam-piagam dari zaman pertengahan.

 

Berdasarkan bahannya prasasti ada yang dibuat dari batu (lingo prasasti, lingopala), tembaga (tamra), dan emas atau perak (swarna). Berdasarkan aksara yang dipakai atau prasasti yang ditulis dengan abjad Pallawa, sebagai prasasti yang tertua di Indonesia (pasasti Yupa dan Kutai) abjad Jawa Kuno (prasasti Dinaya), abjad Pra Nagari (prasasti Kalasan dan Kelurak). Huruf-huruf Pallawa, jawa kuno, jawa tengahan (madia), dan jawa baru merupakan perkemnagan huruf atau abjad Brahmi.

 

Ditinjau dari segi bahasanya terdapat prasasti yang memakai bahasa (1) Sankrit yaitu prasasti Kutai, (2) bahasa Melayu kuno (Sriwijaya), (3) bahasa Jawa kuna (prasasti zaman Jawa Tengahan dan Jawa Timur, (4) Bali kuna (prasasti di Bali s/d 1010 AD). Sejak itu sebagian prasasti di Bali ditulis dengan bahasa Jawa kuna, (5) Sunda kuna (prasasti raja Sri Jayabhupati Ik. 1030 dan prasasti Batutulis dari Sri Baduga Maharaja, Pajajaran).

Hasil epigrafi apa yang diperoleh dari pembacaan prasasti ??

Antara lain : (1) nama dan gelar raja, (2) nama dan gelar pejabat birokrasi, (3) nama dewa dan pendeta, (4) upacara ritual, (5) kronologi, (6) jenis hadiah/pemberian raja, (7) kutukan bagi para pelanggar.

Bagi epigrafis atau prasasti di anggap penting karena : (1) berfungsi sebagai maklumat resmi, (2) sebagai dokumen negara, (3) sebagai pengabdian suatu peristiwa penting, (4) dianggap sakral dan berkekuatan magis, (5) bukti sejarah di berbagai bidang dari para raj zaman dahulu, dan (7) sifatnya yang tahan lama karena dibuat dari bahan yang tidak mudah rusak.

Apakah prasasti merupakan sumber sejarah tanpa cacat?? Ternyata tidak. Betapapun otentiknya prasasti-prasasti tetap mamiliki kelemahan sebagai berikut. (1) Hanya memberitakan peristiwa resmi. (2) Pembuatannya sering mempunyai tendensi tertentu yaitu pemujaan terhadap raja (king worship : verheerlijking van de vorst). (3) Karena adanya unsur king worship tidak jarang prasasti kurang obyektif atau bersifat sepihak.

 

Prasasti terakhir dari sejarah Indonesia kuna ( di Jawa) ialah prasasti Jiu (1486). Demikian pila abjad Jawa kuna kemudian berkembang menjadi abjad Jawa tengahan, dan Jawa baru. Prasasti yang mengabdikan momentum perkembangan bahasa Jawa kuna ke bahasa Jawa tengahan (madia) ialah prasasti Biluluk Bertarikh 1366 M. Mulai saat itu bahasa Jawa madia terus berkembang terutama melalui sastra kidung dan macapat. Salah satu karya dari periode akhir abad XIV yang telah menggunakan bahasa Jawa madia ialah Serat Nawaruci. Obyek epigrafi pasca Majapahit ialah naskah teks yang tertulis dalam abjad dan bahasa Jawa tengahan. Misalnya naskah yang oleh B. Schrieke disebut sebagai Het Boek van Bonang, yang oleh G.W.J. Drewes diberi nama The Adminition of Sheh Bari. Beberapa inskripsi berabjad Arab juga menjadi obyek epigrafi Indonesia seperti inskripsi pada makam raja Malik al-Saleh (Samodra Pasai), Malik Ibrahim, dan inskripsi Fatimah Binti Maemun (di Gresik) Jawa Timur.

 

Berdasarkan perkembangan abjad dan bahasa Jawa kuna ke abjad dan bahasa Jawa tengahan masuk dan berkembang pula unsur kebudayaan Islam. Antara lain masuknya abjad dan bahas  Arab. Karya-karya historiografi tradisional di luar Jawa seperti Sejarah Melayu, Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat Banjar, Hikayat Raja-Raja Kutai semuanya ditulis dengan aksara Arab yang khusus, yaitu Arab Pegon tetapi berbahasa Melayu. Naskah terkhir itu disamping menjadi obyek.

 

D.   Filologi

Filologi berasal dari kata Yunani philologia yang berarti kegemaran berbincang-bincang. Perbincangan atau percakapan sebagai seni memperoleh perhatian khusus dari bangsa Yunani. Makna itu kemudian berubah menjadi kata “cinta kepada kata” sebagai pengejahwatanan pikiran. Ternyata makna itu terus bergeser ke pengertian “perhatian terhadap sastra”. Terakhir menurut Wagenvoost makna kata itu berubah lagi menjadi “studi terhadap sastra”.

– batasan lain tentang makna filologi sebagai berikut :

1.     Menurut kamus, istilah filologi adalah ilmu yang menyelidiki kerokhanian suatu bangsa dengan kekhususannya atau menyelidiki kebudayaan berdasar bahasa dan kesustraannya.

2.     Menurut Woordenboek der Nederlandse Taal, filologi adalah berhubungan dengan bahasa dan sastra Yunani dan Romawi, kemudian meluas kepada bahasa dan sastra bangsa lainnya.

3.     Menurut Webster New International Dictionary, filologi selain memiliki pengertian seperti telah dikemukakan, kemudian diperluas sebagai pengertian ilmu bahasa serta studi tentang kebudayaan bangsa yang beradab seperti terungkap dalam bahasa, sastra, dan agama mereka.

 

Sulastin Sutrisno dalam pidato pengukuhannya pada jabatan Guru Besar Ilmu Filologi di UGM Yogyakarta menandaskan, melalui studi bahasa dalam teks-teks, filologi bertujuan untuk mengenal teks-teks, filologi bertujuan untuk mengenal teks-teks secara sempurna kemudian menempatkannya dalam konteks sejarah kebudayaan suatu bangsa. Apabila tidak, kemungkinan penelitian kesimpulan tentang teks baik secara keseluruhan, bagian pokok, atau sampingannya akan jauh memyimpang.

 

Pentingnya sastra bagi sarana penelitian filologi, karena sastra bukan hanya milik bersama masyarakat, bukan hanya diturunkan lewat generasik, namun sastra juga berfungsi sebagai media ekspresi ide-ide untuk jangka waktu yang lama, pembentuk norma bagi generasi sezaman maupun penerus. Sastra menampilkan gambaran kehidupan yang mencakup hubungan antara masyarakat dengan orang-orang dan peristiwa yang terjadi dalam batin manusia.

 

Kegiatan filologi dimulai dari Eropa pada era renaisans dan humanisme. Pada era itu orang menggali kembali sastra klasik Yunani Romawi. Kegiatan yang semula bertujuan melakukan kritik teks untuk mengetahui kemurnian Firman Tuhan serta memahami kekeramatannya ternyata menumbuhkan kegiatan kritik teks untuk keperluan rekonstruksi naskah yang telah rusak. Filologi menelitinya lewat bahasa dan makna yang terkandung didalamnya, kemudian memperbaikinya. Kegiatan itu sebenarnya telah berkembang sejak abad III BC di perpustakaan dan museum Iskandaria, Mesir. Di waktu berikunya teks-teks yang telah dibetulkan kemudian disalin oleh para penyalin yang seringkali pekerjaannya tidak profesional, hingga menimbulkan kesalahan-kesalahan. Kesalahan – kesalahan itu dapat berupa kata-kata, kalimat, atau bagian-bagiannya. Ataupun ada halaman yang terlampaui dan tertukar dalam proses penyalinan.

 

Dengan ditemukannya teknologi cetak pada abad XV mutu perbaikan teks menjadi lebih baik, di samping kemungkinan musnahnya suatu naskah makin kecil. Dengan jalan demikian terjaminlah kelangsungan hidup teks-teks itu turun temurun. Lewat teks-teks klasik itu para ahli filologi berhasil menggali nilai-nilai hidup yang terkandung dalam kebudayaan lama.

 

Indonesia sebenarnya merupakan khasanah raksasa bagi studi filologi, karena naskahp-naskah kunonya kebanyakan ditulis dan dibaca dengan huruf daerah. Isinya beraneka ragam mulai sastra, dalam arti terbatas sampai masalah agama, sosial dan sejarah. Yang sangat penting bagi study sejarah ialah bahan mengenai bahasa daerah, yang secara keseluruhan dapat memberikan gambaran lebih jelas tentang kebudayaan Indonesia.

 

Naskah-naskah bahasa Melayu dan Jawa ditulis pada bahan kertas. Naskah berbahasa Jawa kuna aslinya ditulis di atas lontar. Di Jawa naskah lontar dapat dikatakan telah tidak ada orang yang menyimpan, tetapi di Bali dan Lombok masih banyak. Naskah Batak biasanya memakai kulit kayu atau rotan. Kecuali di Indonesia, sekitar 26 negara lain menyimpan naskah-naskah lama dari Indonesia seperti : Malaysia, Singapura, Brunai, Sri Lanka, Thailand, Mesir,  Amerika Serikat, Irlandia, Spanyol, Italia, Jerman Barat, Jerman timur, Hongaria, Belgia, dan Rusia.

 

Kegiatan Filologi di tanah air kita baru mulai abad XIX, dirintis oleh sarjana-sarjana Eropa tertutama Belanda. Diantara mereka itu : Geriche, Cohenstuart, J.L.A. Brandes untuk bahasa Jawa kuna, Klinkert untuk bahasa Melayu, Van Ronkel, Von Dewell, Van Hovell untuk syair-syair. Dari Inggris Thomas S. Raffles dan Crawfurd untuk penelitian bahasa dan naskah Melayu, Th. Pigeaud untuk bahasa Jawa kuna dan Tengahan, naskah-naskah Islam oleh Dewes dan B. Schrieke. Dari pihak  sarjana Indonesia perintisnya antara lain Hoesein Djajaningrat, Poebatjaraka, Prijohutomo, Tjan Tjoe Som yang kesemuanya telah almarhum

 

E.   Genealogi

Genealogi berasal dari kata dasar gene, yaitu plasma pembawa sifat-sifat keturunan. Genealogi berarti ilmu yang mempelajari masalah keturunan. Ia berarti juga saling bergantung dua hal, yaitu yang muda berasal dari yang tua. Misalnya tulisan Jawa berasal dari perkembangan (baca : keturunan) abjad Pallawa. Tulisan Pallawa berasal dari tulisan atau abjad Brahmi, dan lain-lain. Namun dalam konteks ini yang dimaksud genealogi ialah yang menyangkut hubungan keturunan individu.

 

Peletak dasar genealogi sebagai ilmu ialah J.Ch. Gatterr (1727-1799), kemudian Q. Lorerirensa menerapkan dalam penulisan ilmiah (1898). Dalam kenyataan sejarah genealogi sangat penting semenjak menusia memasuki zaman sejarah, khususnya menyangkut masalah tahta. Perhatikan misalnya prasati Yupa dari Muarakaman di Kutai. Prsasati itu dengan jelas memberitakan genealogi Mulawarman dengan leluhurnya : Kudungga. Prasati Canggal (732M) melukiskan genealogi Sanjaya dan leluhurnya. Prasati Gunung (910M) telah memberikan gambaran mata rantai genealogi Sanjaya sampai dengan Daksa. Demikian pula dalam Negarakertagama dan Pararaton diberitakan pula genealogi raja-raja yang memerintah Singasari dan Majapahit. Mengapa Genealogi menjadi demikian penting dalam studi sejarah kuna (juga di Indonesia), khususnya bagi kelangsungan suatu dinasti atau tahta kerajaan? Berbagai peristiwa sejarah yang besar menggoncangkan seperti huru hara, perang saudara, pemberontakan untuk mendirikan suatu dinasti baru, dan jatuhnya dinasti lama, salah satu penyebabnya adalah faktor keturunan atau genealogi.

 

F.    Kronologi

Kronologi atau ilmu hitung waktu terbagi menjadi tiga, yaitu kronologi historis, kronologi teknis, dan kronologi matematik. Kronologi disebut juga sebagai almanak atau tentang penanggalan, atau kalender. Apabila kronoligi historis menunjukkan hitungan waktu (penanggalan) dalam konteks terjadinya sejarah. Misalnya hari jadi Surabaya 31 Januari 1293, pecahnya pertempuran Surabaya pada tanggal 10 November 1945, dan lain-lain. Maka kronologis teknis ialah hitungan yang berkaitan dengan sistem almanak atau kalender. Kronologis historis dinamakan pula sebagai kronografi. Dalam studi sejarah kronologis historis merupakan tulang punggungnya. Tiap peristiwa tidak terpisahkan dari berbagai waktu. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dapat dirintut hubungannya dalam waktu. Sebagai contoh, pada tahun 1275 Kertanegara mengirim ekspedisi Pamalayu ke Sumatra. Akibanya Singasari kosong. Karena itu Wiraraja memberitahu Jayakatwang bahwa saatnya telah tiba untuk bertindak, dan pada tahun 1292 Jayakatwang dari Kediri melancarkan serangan terhadap Singasari, dan seterusnya. Di sini dapat diruntut hubungan sebab akibat tentang ekspedisi Pamalayu dan serangan Jayakatwang dalam bingkai waktu. Untuk menetapkan atau mencari angka-angka tahun dalam kronologi historis berkaitan erat dengan kronologi teknis.

 

Kronologi teknis atau sistem kalender (penanggalan) membahas sistem almanak atau penanggalan  suatu bangsa. Pertama sistem kalender berdasarkan perederan bulan. Sistem ini disbut sebagai lunar system atau tahun qamariah (qamaria ; bulan). Sistem ini agaknya sebagai sistem yang lebih tua. Sistem kedua yaitu berdasarkan peredaran Matahari, atau tahun syamsiah (matahari), disebut juga sebagai solar system. Dewasa ini kalender yang dipakai secara luas diseluruh dunia adalah kalender Masehi, berdasarkan perhitungan peredaran matahari. Pemakaian kalender ini sebagai akibat sangat luasnya pengaruh perdaban Eropa di dunia Internasional.

 

Untuk studi sejarah Indonesia kuna, dikenal kalender Saka, sebagai pengaruh kebudayaan Hindu. Kalender Saka ditetapkan sebagai resmi oleh Raja Kaniskha I, raja bangsa Saka (Scythia) dari kerajaan Kushana di India Utara pada tahun 78 M. Jadi selisih antara kalender Masehi dengan kalender Saka 78 tahun. Kalender Saka mendasarkan hitungannya dengan peredaran Matahari. Dalam sejarah Indonesia kuna hampir semua prasasti memakai kalender Saka.

 

 

 

 

G.  Numismatik

Numismatik atau ilmu mata uang, mengkaji sejarah perkembangan mata uang dari zaman purba sampai sekarang. Mata uang tertua berasal dari peninggalan bangsa Yunani sekitar 700 BC.Dilihat dari bahannya, mata uang ada yang dibuat dari bahan emas, perak, tembaga, aluminium dan kertas. Pada bangsa-bangsa yang masih primitive (masih tingkat prasejarah) tidak jarang mereka memakai benda-benda seperti kulit kerang sebagai alat penukar. Dewasa ini sebagian besar negara-negara di dunia, membuat mata uangnya dari bahan kertas.

 

Ditinjau dari nilai yang dikandungnya, mata uang memiliki dua nilai : intrinsik dan nominal. Nilai intrinsik ialah nilai berdasarkan bahan yang digunakan untuk membuat mata uang. Nilai nominal ialah nilai tukar dari suatu satuan mata uang sebagaimana tertera padanya. Sebagai contoh pada mata uang rupiah ada yang bernila nominal Rp.25,- Rp.100,- Rp.500,- Rp.1000,- Rp.5000,- dan Rp.10.000,-

 

Bagi kepentingan studi sejarah mata uang diantaranya memberikan data-data tentang tokoh-tokoh pahlawan dari negara yang bersangkutan, nilai tukar, nama pejabat yang berwenang, program tertentu dari suatu pemerintahan, seperti : Keluarga Berencana (KB), pelestarian lingkungan, peringatan peristiwa-peristiwa tertentu, pengaruh kebudayaan, dan lain-lain.

 

Dari konteks sejarah ekonomi manfaat numismatik sangat jelas, karena nilai suatu mata uang, dalam periode tertentu memberikan petunjuk bagaimana keadaan perekonomian negara yang bersangkutan. Dari segi sejarah kebudayaan, persebaran suatu mata uang juga memberikan gambaran sampai seberapa jauh pengaruh suatu negara atau bangsa terhadap perekonomian bangsa lain. Sebagai contoh pengaruh dalam alat pembayaran atau alat pertukaran internasional. Persebaran itu juga memberikan petunjuk bagaimana dan sampai sejauh mana luas pengaruh politik suatu negara terhadap perekonomian dunia atau internasional. Berdasarkan mata uang yang dikoleksi secara lengn kronologis dkap dapat pula dipakai sebagai bahan untuk merekonstruksi sejarah suatu negara atau suatu dinasti. Seperti dekemukakan, di atas mata uang memiliki bahan atau data-data sejarah yang diperlukan.

 

H.  Ilmu-ilmu Sosial

Semua cabang ilmu sosial seperti politik, ekonomi, sosiologi, antropologi, gepgrafi, psikologi dan lainnya juga merupakan ilmu bantu sejarah. Hal itu disebabkan karena manusia sebagai mahkluk sosial dalam berbagai aspek kehidupannya tidak terlepas dari aspek-aspek lainnya. Bahkan di kalangan para ahli berbeda pendapat dalam menempatkan sejarah, apakah termasuk ilmu sastra atau ilmu sosial. Oleh karena itu studi sejarah yang komphrehensip dan meltidimensional memerlikan bantuan konsep-konsep ilmu-ilmu sosial untuk menjelaskan suatu gejala sejarah (social scientific approach). Berdasarkan kenyataan ini, sebagian sejarawan menempatkan sejarah dalam kelompok ilmu sosial.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kasdi Aminuddin, 2005. Memahami Sejarah, Surabaya, UNESA University Press.

About these ads

6 pemikiran pada “ILMU-ILMU BANTU SEJARAH

  1. Assalamualaikum wr.wb.Saya sudah baca tentang ILMU-ILMU BANTU SEJARAH anda.Ada nggak buku tentang filolofi jawa tengah? soalnya saya buth banget nih.Apa bisa bantu saya carikan buku tsbt?Atas bantuannya saya ucapkan terimakasih.

    • Wa’alaikumussalam Wr.Wb
      Terimakasih sudah membaca artikel saya,,,maaf sebelumnya, kalau soal buku filolofi Jawa Tengah saya tidak punya. Akan tetapi bila saya menemukan atau mengetahui buku tersebut, insyaAllah saya akan memberitahukan kepada anda ;)

    • Secara umum Geologi adalah ilmu yang mempelajari planet Bumi, termasuk Komposisi, keterbentukan, dan sejarahnya. Geologi itu bagian dari Geografi, karena Geografi juga sebagai ilmu bantu sejarah, maka geologi juga termasuk ilmu bantu sejarah ;)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s