Peristiwa 28 Oktober 1928

KATA PENGANTAR

 

               Puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat-Nya kepada kami semua sehingga dapat menyelesaikan makalah Sejarah Nasional Indonesia .

               Harapan kami agar laporan ini dapat menambah khasanah dan wawasan kami se,  peninggalan-peninggalan, kebudayaan serta sejarah bangsa kami sendiri agar kami semua dapat lebih mengenal dan mencintaijarah perjuangan  bangsa kami dan memupuk rasa nasionalisme yang semakin terkikis oleh derasnya arus globalisasi yang semakin deras mendera bangsa kita.

Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pengampu atas bimbingannya selama diperkuliahan. serta semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini sampai selesai.

               Dan kami menyadari bahwa masih banyak sekali kekurangan dari makalah yang kami susun ini, untuk itu kami mengharapkan kritik dan sarannya demi kesempurnaan makalah kami dimasa yang akan datang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.       Latar Belakang Masalah

        Peristiwa 28 Oktober 1928 mempunyai arti yang sangat penting bagi bangsa Indonesia karena merupakan tongggak bersejarah bagi bangsa ini sebab peristiwa itu merupakan awal terjadinya perjuangan yang menyeluruh yang dilandasi semangat persatuan dan kesatuan bangsa demi tercapainya cita-cita perjuangan bangsa menuju Indonesia merdeka.

 

B.        Rumusan Masalah

        Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, maka rumusan permasalahan yang didapatkan pada makalah ini adalah :

Bagaimanakah  peristiwa 28 Oktober 1928 dapat menjadi suatu peristiwa yang sangat berpengaruh besar terhadap bangsa Indonesia”?

 

C.       Ruang Lingkup dan Pembatasan Masalah

Arti penting peristiwa 28 Oktober 1928 bagi bangsa Indonesia.

 

D.       Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar kita mengetahui arti penting peristiwa 28 Oktober 1928 bagi bangsa Indonesia.

 

E.        Manfaat

Manfaat yang didapatkan dari hasil penulisan makalah ini adalah :

1.      Mengetahui arti penting peristiwa 28 Oktober 1928 bagi bangsa Indonesia.

2.      Dapat mengambil hikmah dari peristiwa 28 Oktober 1928 bagi masa yang akan datang.

3.      Menambah wawasan kita terhadap sejarah perjuangan bangsa.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.       ASAL USUL NAMA INDONESIA

        Pada zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

        Bangsa Arab menyebut tanah air kita Jaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah benzoe, berasal dari bahasa Arab luban jawi (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. “Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi (Sumatra, Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa)” kata seorang pedagang di Pasar Seng, Mekah.

        Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia. Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah “Hindia”. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”. Sedangkan tanah air kita memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau “Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais).

        Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch- Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur). Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu Insulinde, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin insula berarti pulau). Tetapi rupanya nama Insulinde ini kurang populer. Bagi orang Bandung, Insulinde mungkin cuma dikenal sebagai nama toko buku yang pernah ada di Jalan Otista.

        Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), memopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “India”. Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.

        Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, “Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa” (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat). Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.

        Sampai hari ini istilah nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa dan negara kita adalah Indonesia. Kini akan kita telusuri dari mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul.

        Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), orang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

        Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: … the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians.

        Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

        Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.

        Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan: Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. Ketika mengusulkan nama “Indonesia” agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!

        Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch- Indie tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah “Indonesia” itu dari tulisan-tulisan Logan.

 

B.        PENGGUNAAN NAMA INDONESIA

        Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.

        Pada dasawarsa 1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan! Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.

        Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

        Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.”

        Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama “Indonesia”. Akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini kita sebut Sumpah Pemuda.

 

C.       SUMPAH PEMUDA

        Setelah memperoleh banyak keuntungan dari tanah nusantara ini, peperintah Hindia Belanda merasa perlu adanya balas budi terhadap rakyat bangsa Indonesia. Untuk itula pemerintah Hindia Belanda menerapkan sistem Politik yang dinamakan Politik Etis yang memperbolehkan rakyat/ pemuda Indonesia untuk memperoleh pendidikan yang dengan memperoleh pendidikan maka pemuda-pemuda Indonesia menjadi orang-orang intelek yang terbuka pengetahuannya. Maka dimulailah pergeraka-pergerakan yang menginginkan kehidupan yang lebih baik bagi bangsa Indonesia

1.      Organisasi-organisasi Pemuda

        Pada zaman pergerakan Nasional, banyak berdiri organisasi pemuda. Yang pada mulanya bersifat kedaerahan berangotakan pemuda daerah tertentu  yang pada umumnya mereka adalah pelajar sekolah menengah dan mahasiswa.

Organisasi yang pertamakali berdiri adalah Tri Koro Darmo yang angota-anggotanya terdiri dari pemuda-pemuda Jawa yang didirikan pada tahun 1915 dipimpin oleh Satiman Wiryosanjoyo  dan pada tahun 1918 berganti namanya menjadi Jong Java (dibaca : Yong Java)

        Pemuda dari daerah lain yang belajar di kota-kota besar di Jawa seperti Jakarta, Srabaya, Bandung, dan Yogyakarta mendirikan organisasi untuk tolong menolong sebab jauh dari kampung halaman. Pemuda Sumatra mendirikan Jong Sumateranen Bond (JBS) tahun 1917 dengan tokohnya : Muhammad Hatta, Muhammad Yamin dan Bahder Johan.

Pada tahun 1918, pemuda Ambon mendirikan Jong Ambon. Sesudah itu berdiri pula Jong Minahasa, Jong Celebes (Sulawesi), Jong Bataksbond, dan pemuda Sunda mendirikan Sekar Rukun.

 

2.      Konggres Pemuda I

        Lama kelamaan sifat kedaerahan organisasi emuda itu hilang. Mereka menyadari bahwa mereka adalah satu bangsa. Karena itu mereka berusaha menyatukan semua organisasi itu menjadi satu organisasi tunggal.

        Pada bulan November 1925 beberapa tokoh pemuda mengadakan pertemuan di Jakarta. Para pemuda itu sepakat untuk mengadakan pertemuan yang lebih luas. Untuk itu dibentuk sebuah panitia. M. Tabrani diangkat sebagai ketua sedangkan Sumarmo sebagai wakilnya (keduanya dari Jong Java). Jamaluddin Adinegoro (JSB) sebagai sekretaris, Suwarso (Jong Java) sebagai bendahara. Anggota lainnya adalah Bahder Johan dan Sarbini (JSB), Jan Toule Soulehua (Jong Ambon), Paul Pinantoan (pelajar Minahasa), Hamami (Sekar Rukun), dan Sanusi Pane (Jong Bataksbond).

Bulan April 1926 mereka mengadakan konggres yang disebut konggres pemuda I yang dihadiri oleh berbagai organisasi pemuda. Beberapa tokoh pemuda menyampaikan pidato tentang persatuan Indonesia. Muhammad Yamin berpidato tentang perkembangan bahasa dikemudian hari. Sementara itu M. Tabrani mengajak semua organisasi pemuda dilebur menjadi organisasi tungal.

        Konggres pemuda I berhasil mencapai tujuannya. Semua organisasi pemuda mengakui perlunya persatuan. Akan tetapi bentuk persatuan itu yang belum mereka sepakati. Sebagian setuju menghendaki membentuk organisasi tungal, sebagian lagi setuju membentuk federasi. Artinya organisasi yang sudah ada tidak perlu dibubarkan, tetapi menjadi anggota federasi.

 

3.      Konggres Pemuda II

        Tokoh-tokoh pemuda tidak putus asa. Sesudah konggres pemuda I, mereka sering mengadakan pertemuan. Akhirnya dicapai kesapakatan tentang :

(1)   Cita-cita Indonesia merdeka harus menjadi cita-cita semua putera Indonesia.

(2)   Semua organisasi pemuda harus disatukan dalam wadah tunggal

      Pada bulan Mei 1928 mereka bertemu lagi. Dalam pertemuan ini diambil keputusan untuk mengadakan konggres berikutnya, maka disusunlah panitia sebagai berikut :

(1)   Ketua                         : Sugondo Joyopuspito

(2)   Wakil Ketua              : Joko Marsaid

(3)   Sekretaris                   : Mohammad Yamin

(4)   Bendahara                 : Amir Syarifuddin

Disamping itu terdapat lima pembantu yakni Johan, Muhammad Cai, Kocosungkono, Senduk, J. Leimena, dan Rohyani.

Konggres berlangsung dua hari, tanggal 27 dan 28 Oktober 1928. Konggres inilah yang disebut konggres pemuda II. Tempat sidang berpindah-pindah. Sidang terakhir diadakan di gedung Indonesische Clubhuis (sekarang museum Sumpah Pemuda).

Banyak tokoh politik dan masyarakat yang menghadiri konggres seperti : Ir Sukarno. Begitu pula dengan Perhimpunan Indonesia dari negeri Belanda.

      Berbagai masalah dibahas dalam konggres. Mhammad Yamin membahas masalah persatuan bangsa yang ditinjau dari sudut sejarah. Dikatakan bahwa sebelum kedatangan bangsa Barat, bangsa Indonesia sudah bersatu dibawah kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.

Pada waktu konggres berlangsung Mohammad Yamin sudah menyusun rumusan konggres. Dalam rumusan itu tercantum bagian yang sekarang disebut Sumpah Pemuda yang isinya :

(1)   Kami putera puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

(2)   Kami putera puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

(3)   Kami putera puteri Indonesia mengaku berbahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Sebelum rumusan dibacakan, terlebih dahulu diperdengarkan lagu Indonesia Raya gubahan W.R. Supratman yang dinyanyikan hanya dengan biola saja karena adanya larangan oleh polisi pemerintah Belanda.

 

 

 

 

D.       PENGARUH BESAR SUMPAH PEMUDA 28 OKTOBER 1928 BAGI BANGSA INDONESIA

        Sumpah Pemuda sangat besar pengaruhnya bagi bangsa Indonesia. Rasa persatuan dan kesatuan semakin tebal yang semakin meluas tidak hanya dikalangan pemuda saja tetapi juga dikalangan masyarakat luas. Sifat kedaerahan yang sebelumnya sangat kuat menjadi berganti dengan sifat Nasionalisme yang mengakar pada semangat persatuan untuk terwujudnya bangssa Indonesia yang merdeka dari belenggu penjajahan.

Dengan semangat persatuan yang sudah ditanamkan oleh pemuda dalam Sumpah Pemuda. Maka usaha untuk mencapai Indonesia yang merdeka semakin luas, sebab komunikasi diantara yang satu dengan yang lainnya semakin mudah. Tembok kedaerahan yang dahulunya menjadi penghalang kini sudah berhasil ditumbangkan oleh rasa persatuan dan kesatuan yang mengakar pada hati sanubari rakyat Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB III

 KESIMPULAN DAN SARAN

 

A.       Kesimpulan

        Sumpah Pemuda sangat besar pengaruhnya bagi bangsa Indonesia. Rasa persatuan dan kesatuan semakin tebal yang semakin meluas tidak hanya dikalangan pemuda saja tetapi juga dikalangan masyarakat luas. Sifat kedaerahan yang sebelumnya sangat kuat menjadi berganti dengan sifat Nasionalisme yang mengakar pada semangat persatuan untuk terwujudnya bangssa Indonesia yang merdeka dari belenggu penjajahan.

Bahasa melayu dijadikan sebagai bahasa persatuan. Bahasa melayu sudah lama digunakan dalam perhubungan antar suku di Indonesia. Selain itu lagu Indonesia Raya menggugah semangat pendengarnya yang nantinya dijadikan sebagai lagu kebangsaan Indonesia.

B.        Saran

Pelajaran sejarah semakin terpinggirkan, untuk itulah penulis berharap kepada penyelenggara pendidikan di Indonesia untuk lebih menekankan akan pentingnya pendidikan sejarah bagi siswa. Sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Wardana Datta, Yusmar Basri, dan Amrin Imran. 1998. Ilmu Pengetahuan Sosial 3. Jakarta : CV Ananda

http://kask.us/1014230

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s